COVID-19, Amerika Serikat Tolak Berlama-lama Social Distancing

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan di jalan 34th Street dan 11 ave, kota New York, Amerika Serikat, 21 Maret 2020.[New York Post/Daniel William McKnight]

    Pemandangan di jalan 34th Street dan 11 ave, kota New York, Amerika Serikat, 21 Maret 2020.[New York Post/Daniel William McKnight]

    TEMPO.CO, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap rencananya mengendurkan pembatasan aktivitas sosial (social distancing) dan menjaga jarak (physical distancing) dalam masa pandemi COVID-19 saat ini. Menurutnya, 'cara penyembuhan' jangan lebih buruk daripada masalah yang sedang dihadapi. 

    Dalam pernyataan pers, Sabtu 4 April 2020, itu, Trump juga memuji gubernur dari kalangan republikan yang belum mengeluarkan perintah "tinggal di rumah" untuk negara bagian mereka. Trump adalah juga berasal dari Partai Republik. 

    "Mereka melakukannya dengan sangat baik dan mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menjalankan negara bagian mereka," katanya.

    Bahkan ketika dokter-dokter top menekankan pentingnya dan efektivitas dari social distancing, Trump justru mencemaskan dampaknya terhadap kondisi perekonomian. Dia mengungkap rencananya mengendurkan pembatasan sosial itu pada perayaan Paskah nanti.

    Dia juga menyatakan menolak pembatasan berlaku terlalu lama. "Kita tidak akan menghancurkan negara kita," kata Trump sambil menambahkan, "Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut, jadi pada titik tertentu beberapa keputusan sulit harus dibuat."

    Pedoman pemerintah federal di Amerika Serikat saat ini mencakup peringatan bagi orang-orang agar mencuci tangan dan menghindari kelompok yang lebih besar dari 10 orang. Pedoman itu diberlakukan hingga akhir April nanti.

    Mahasiswa memadati pantai Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat. Foto/Saul Martinez/The New York Times

    Keengganan Amerika untuk menjalankan pembatasan aktivitas sosial juga tercermin dari perilaku di kalangan mahasiswanya yang nekat ramai berlibur musim semi. Akibatnya, sebagian telah menyumbang kepada angka kasus positif infeksi COVID-19 di negara adidaya tersebut.

    Banyak dari para mahasiswa itu diduga keliru telah terlalu percaya diri kalau orang muda tidak mungkin terinfeksi virus corona. Padahal, menurut laman worldometers, jumlah kasus positif COVID-19 di Amerika saat ini telah mencapai lebih dari 320 ribu orang--tertinggi di dunia--dan lebih dari sembilan ribu yang meninggal. 

    Dalam pernyataan hariannya pada Sabtu itu pula Trump mengakui angka kematian masih akan terus bertambah. Masa terberat disebutkannya pada pekan ini dan depan.

    REUTERS | BBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.