COVID-19, Arkeolog Minta Situs Arkeologi Papua Ditutup Sementara

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menhir di situs Megalitik Tutari. Kredit: Balai Arkeologi Papua

    Menhir di situs Megalitik Tutari. Kredit: Balai Arkeologi Papua

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto meminta situs-situs arkeologi yang selama ini dikunjungi wisatawan  agar ditutup sementara seiring kebijakan pembatasan aktivitas sosial (social distancing) Pemerintah Papua untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19.

    Menurut Hari, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menutup dan membersihkan situs dengan penyemprotan disinfektan. “Situs-situs ini yaitu Situs Megalitik Tutari dan Situs Tugu Mac Arthur, keduanya di Kabupaten Jayapura,” ujar dia saat dihubungi, Minggu, 5 April 2020.

    Pembersihan situs arkeologi, kata arkeolog lulusan Universitas Udayana, Bali itu, membutuhkan waktu lama, karena Situs Megalitik Tutari sangat luas, terdiri dari 6 sektor dengan banyak tinggalan bongkahan batu besar bergambar prasejarah.

    “Penyemprotan disinfektan ini bisa dilakukan pada lokasi yang sering dilalui wisatawan, yaitu ruang informasi, toilet dan tangga naik menuju Situs Megalitik Tutari,” kata Hari.

    Pembatasan aktivitas sosial (social distancing) di Papua sudah dilakukan mulai dari 26 Maret hingga 9 April 2020. Sementara Situs Megalitik Tutari selalu ramai dikunjungi pengunjung sejak Balai Arkeologi Papua beberapa kali menggelar kegiatan Rumah Peradaban di situs tersebut.

    “Kegiatan Rumah Peradaban di situs ini terakhir berlangsung tahun lalu dengan tema Rumah Peradaban Situs Megalitik Tutari untuk Generasi Milenial,” tutur pria kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta, 39 tahun lalu itu.

    Namun, untuk membersihkan situs-situsnya, Hari mengatakan, harus menggunakan disinfektan khusus, seperti yang digunakan di Candi Borobudur. “Yang dipakai adalah disinfektan khusus agar tidak merusak cagar budaya dan aman bagi manusia. Cairan disinfektan khusus ini dengan komposisi alkohol, H2O2, gliserol, dan aquades,” ujar dia.

    Hari menerangkan, selama ini Situs Tugu Mac Arthur dan Situs Megalitik Tutari dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. Oleh karena itu, untuk menutup sementara situs ini perlu berkoordinasi dengan pihak Rindam XVII/Cenderawasih, karena situs ini berada di lingkungan Rindam.

    Sehingga, Hari berujar, tentara yang piket di pos jaga masuk Rindam bisa mengarahkan wisatawan untuk kembali dan tidak berkunjung ke situs. Selain itu perlu dibuat spanduk informasi bahwa Situs Megalitik Tutari dan Situs Tugu Mac Arthur ditutup sementara.

    “Untuk itu penjaga situs dapat menginformasikan pada wisatawan agar tidak berkunjung sementara waktu ke situs ini," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.