COVID-19, Ilmuwan Uji Chloroquine pada 40.000 Petugas Medis Dunia

Reporter

Editor

Erwin Prima

Obat malaria Chloroquine yang didapat dari apotek, Kamis 19 Maret 2020. Sebagian masyarakat memburunya karena dianggap bisa digunakan kala mengalami gejala infeksi virus corona COVID-19. ISTIMEWA

TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan dan pekerja medis di seluruh dunia akan diuji coba terhadap dua obat anti-malaria yang sudah ada yang dapat membantu melindungi mereka terhadap pandemi virus corona COVID-19.

Seperti dikutip Science, uji coba itu akan melibatkan 40.000 dokter dan perawat di Asia, Afrika, dan Eropa yang akan diberikan chloroquine atau hydroxychloroquine, dua obat anti-malaria yang telah ada.

Obat-obatan tersebut akan digunakan dalam strategi profilaksis pra pajanan (PrEP) dan dapat dimulai bulan ini, meskipun seorang peneliti Malaria, Matthew White, menyebutnya sebagai 'proses yang sangat sulit' dan 'proses birokratis'.

"Dalam sistem perawatan kesehatan yang rapuh, jika Anda mulai merobohkan beberapa perawat dan dokter, semuanya dapat runtuh," ujar White, yang berbasis di Universitas Mahidol di Bangkok,  kepada Science, sebagaimana dikutip Daily Mail, Rabu, 8 April 2020. “Jadi kami menyadari bahwa prioritasnya adalah melindungi mereka."

Percobaan ini akan memilih peserta secara acak di Asia yang menggunakan chloroquine atau plasebo kontrol selama tiga bulan sementara hydroxychloroquine akan diberikan kepada peserta di Eropa dan Afrika.

Peserta tersebut akan diminta untuk melaporkan suhu mereka melalui aplikasi atau situs web dan kemudian para peneliti akan membandingkan mereka yang bergejala dan tidak bergejala selain keparahan gejala.

Di antara manfaat dari pengujian obat-obatan tersebut secara khusus adalah kenyataan bahwa obat-obatan tersebut sudah tersedia dan dapat digunakan secara massal tepat waktu.

"Daya tarik obat-obatan ini adalah bahwa obat-obatan tersebut berpotensi mudah digunakan dan kita tahu banyak tentang mereka," kata White kepada Science.

Di sisi lain, para peneliti juga telah berhati-hati untuk menggunakan obat-obatan tersebut bahkan meski ada bukti awal bahwa obat tersebut mungkin efektif karena orang dengan kondisi lain bergantung pada obat itu untuk mengobati lupus dan rheumatoid arthritis.

Yayasan Bill dan Melinda Gates menjalankan sebuah studi berbarengan terkait obat itu di Afrika, Amerika Utara, dan Eropa sementara studi terpisah sedang berlangsung di Amerika Serikat, Australia, Kanada, Spanyol, dan Meksiko.

Sebuah obat pencegahan yang berbeda, nitazoxanide, juga sedang dipertimbangkan oleh para peneliti dan biasanya digunakan untuk mengobati infeksi parasit serta serum kaya anti-bodi yang dibuat dari orang yang telah pulih dari virus itu.

"Jika ada obat yang dapat mencegah infeksi dan petugas kesehatan dapat meminumnya, itu akan memberi manfaat kesehatan masyarakat yang sangat besar," ujar Jeremy Farrar, kepala Wellcome Trust, yang mendanai upaya White, kepada Science.

DAILY MAIL | SCIENCE






Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

1 hari lalu

Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

Kasus virus flu burung yang menginfeksi hewan mamalia di Inggris dan Spanyol membuat para ahli khawatir selanjutnya bisa menular ke manusia.


Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

1 hari lalu

Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

Pengamat tata kota Nirwono Joga menyatakan Wisma Atlet Kemayoran dibangun untuk kepentingan event olahraga internasional. Bisa untuk olimpiade.


Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

2 hari lalu

Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

Heru Budi mengatakan pengelolaan Wisma Atlet jadi kewenangan Pusat. DPRD DKI minta jangan dibiarkan kosong agar tak banyak kuntilanak.


Picu Kebutaan dan Kematian, Obat Tetes Mata India Dilarang di Amerika Serikat

2 hari lalu

Picu Kebutaan dan Kematian, Obat Tetes Mata India Dilarang di Amerika Serikat

CDC Amerika Serikat menyebut obat buat India ini menyebabkan setidaknya 55 kasus kehilangan penglihatan permanen, rawat inap, dan satu kematian.


Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

3 hari lalu

Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

AMSI dinilai telah memberikan kontribusi penting khususnya dalam penyebaran informasi tentang Covid-19 dan pencegahan hoaks selama pandemi.


Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

4 hari lalu

Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

Jokowi menyebut akibat kegagapan menangani pandemi, terjadi turbulensi ekonomi dan membuat pertumbuhan ekonomi jatuh.


Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

4 hari lalu

Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

Sebelumnya, Jepang bahkan mengumumkan akan mempertimbangkan untuk melonggarkan rekomendasi penggunaan masker.


Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

4 hari lalu

Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

Pakar mengatakan karantina kesehatan tetap perlu dilakukan meskipun pandemi COVID-19 telah terkendali secara penuh.


Saat Korea Selatan Tak Lagi Terapkan Mandat Penggunaan Masker

5 hari lalu

Saat Korea Selatan Tak Lagi Terapkan Mandat Penggunaan Masker

Korea Selatan adalah salah satu negara pertama yang melaporkan wabah Covid-19 pada awal 2020.


Amerika Serikat Akan Akhiri Darurat COVID-19 Pada 11 Mei

5 hari lalu

Amerika Serikat Akan Akhiri Darurat COVID-19 Pada 11 Mei

Mantan presiden Donald Trump pertama kali menyatakan pandemi COVID-19 sebagai darurat nasional Amerika Serikat pada 13 Maret 2020