Amerika Cari Antibodi Pelindung Tenaga Medis dari COVID-19

Reporter

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat akan melakukan tes virus corona atau Covid-19 secara drive thru di Seattle, Washington, 17 Maret 2020. REUTERS/Brian Snyder

TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah memulai tes antibodi massal untuk membantu memastikan berapa banyak orang telah terinfeksi virus corona COVID-19. Termasuk mencari tahu jumlah mereka yang terinfeksi virus itu namun tidak pernah menunjukkan gejala sakit.

Dalam pernyataannya, CDC menjelaskan bahwa tes yang dilakukan menganalisa antibodi-antibodi dalam darah setiap orang yang diperiksa untuk mendeteksi apakah mereka pernah terpapar virus itu. Mengidentifikasi orang-orang yang telah sembuh dari infeksi dan kemungkinan memiliki perlindungan pada tingkat tertentu dari reinfeksi bisa jadi kunci untuk memperkuat pada tenaga medis di Amerika.

Tes akan fokus pada tiga kelompok survei yang berbeda. Fase pertama telah dimulai yakni mengidentifikasi orang-orang yang terdiagnosa tidak terinfeksi meski berada di kawasan yang ditetapkan sebagai hotspot COVID-19. Dua kelompok survei lainnya akan menguji orang-orang dari luar hotspot, dan beberapa kelompok tertentu—termasuk para pekerja atau petugas medis—untuk melihat bagaimana virus itu menyebar di antara mereka.

Badan Obat dan Makanan (FDA) telah mengeluarkan izin darurat pelaksanaan tes antibodi darah tersebut pada Rabu lalu. Badan itu mengatakan bahwa cukup beralasan untuk meyakini tes yang dilaksanakan oleh Cellex akan bisa mendiagnosa kasus-kasus COVID-19 secara efektif, dan potensi keberhasilan bisa melampaui risikonya.

Biasanya, FDA hanya akan memberi izin suatu alat kesehatan beredar dan digunakan setelah menerima bukti yang cukup untuk memastikan mereka aman dan efektif.

Sejumlah jenazah pasien positif virus corona atau Covid-19 berada dalah sebuah truk di luar Rumah Sakit Wyckoff di Brooklyn, New York City, 4 April 2020. Kasus virus corona di Amerika Serikat mencapai 336.830 kasus. Handout via REUTERS

Mengetahui berapa banyak orang yang terinfeksi namun tidak pernah sakit adalah kunci untuk mengembangkan pemahaman lebih luas tentang bagaimana virus corona berperilaku dan bagaimana wabahnya di Amerika telah meningkat berlipat-lipat. Ini semua bersamaan dengan Pemerintahan Presiden Donald Trump yang mulai mempertanyakan berapa lama situasi pembatasan harus berlanjut.

Pembatasan jarak fisik maupun aktivitas sosial demi memutus rantai penularan penyakit. Namun itu membuat banyak masyarakat di dunia harus menghindari bepergian yang tidak terlalu penting dan berkumpul bersama lebih dari 10 orang.

Per artikel ini dibuat, sebanyak 529.887 orang di Amerika terinfeksi virus corona COVID-19. Jumlah itu adalah yang tertinggi di dunia. Adapun angka kematiannya telah lebih dari 20 ribu--juga yang tertinggi--berdasarkan peta penyebaran COVID-19 yang dibuat Johns Hopkins University.

POLITICO






Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

14 jam lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

1 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

1 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

1 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

1 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

1 hari lalu

Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

Pakar mengatakan apapun varian COVID-19, termasuk XBB.1.5 atau Kraken, protokol kesehatan belum berubah dan vaksin masih bermanfaat.


Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

2 hari lalu

Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

Yuni Shara sengaja menggunakan gaun tanpa lengan agar memudahkannya menerima suntikan vaksin di lengan kirinya.


Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

2 hari lalu

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

Harga minyak dunia naik 1 persen karena ekspektasi permintaan menguat dipicu menggeliatnya aktivitas ekonomi Cina.


Saran Pakar agar Terhindar dari Penularan Subvarian Kraken

2 hari lalu

Saran Pakar agar Terhindar dari Penularan Subvarian Kraken

Pakar merekomendasikan penggunaan masker kembali pada keadaan yang berisiko demi mencegah terkena subvarian Kraken.


Terawan Puji Disertasi Soal Vaksin Berbasis Sel Dendritik di Unair

2 hari lalu

Terawan Puji Disertasi Soal Vaksin Berbasis Sel Dendritik di Unair

Mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, hadir dalam sidang terbuka promosi doktor di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.