Kurangi Kebutuhan APD, Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab COVID-19

Bilik Swab untuk memeriksa pasien terduga terinfeksi virus corona atau COVID-19 yang dikembangkan oleh Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Jaka Widada. Kredit: Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Dosen Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jaka Widada, berhasil mengembangkan Bilik Swab untuk memeriksa pasien terduga virus corona COVID-19 yang memudahkan para tenaga medis. Dengan bilik tersebut tenaga medis tidak perlu lagi menggunakan alat pelindung diri (APD).

Jaka mengatakan dirinya terinspirasi dari gambar dan video di Korea Selatan yang beredar, yang menggambarkan tenaga kesehatan sedang melakukan swab di bilik untuk memeriksa pasien. Dia juga berdiskusi dengan istrinya, dokter spesialis THT Camelia Hardini yang terbiasa melakukan swab untuk memeriksa pasiennya.

“Dan kebetulan backgroud saya mikro biologi, sedikit banyak tahu tentang ruangan yang bebas dari kuman. Jadi dengan bilik swab, tidak perlu APD,” ujar dia saat dihubungi, Kamis, 16 April 2020.

Bilik yang dibuat ayah dari empat orang anak itu berukuran 90x90 cm2 dengan tinggi 2 meter. Pintu terletak di belakang, dan bagian depan memakai kaca dengan dua lubang untuk tangan petugas medis memeriksa pasien. Sementara dari bodi, bilik itu terbuat dari alumunium panel composit yang sering digunakan di bangunan.

Idealnya, lulusan S3 University of Tokyo, Jepang, itu menambahkan, bodi menggunakan stainless steel, tapi terkendala harga mahal, sementara kayu tidak memungkinkan, dan bahan GRC Board tidak cocok jika dibersihkan dengan disinfektan. “Semua bahannya itu perhitungannya termurah dan berstandar medis,” ujarnya.

Jaka yang menekuni bidang keahlian bioteknologi lingkungan itu juga melengkapi bilik dengan lampu pencahayaan di bagian dalam dan lampu untuk swab, dan blower yang disaring dengan hepa filter—yang biasa digunakan untuk membuat ruangan bersih dan steril seperti di lab.

Selain itu, Jaka juga melengkapi amplifier sederhana lengkap dengan speakernya untuk berkomunikasi dengan pasien. Sarung tangan panjang yang dipasang pun sudah berstandar medis dan dilapisi dengan handscoon yang sekali pakai.

“Penggunaannya, tenaga medis melakukan swab, kemudian handscoon itu hanya sekali pakai lalu dibuang ke tempat sampah medis, dan sarung tangan panjang dibersihkan dengan disinfektan,” tutur Jaka. “Karena yang harus diperhatikan itu keamanan tenaga medis dan pasien, dua-duanya harus aman.”

Jaka menyebutkan, secara keseluruhan biaya produksi untuk pembuatan bilik swab tersebut sekitar antara Rp 7,5 juta-8 jutaan. Dia juga menggandeng usaha kecil menengah untuk memproduksi bilik itu. “Terakhir itu Gugus Tugas COVID-19 nasional, sudah bilang punya niat untuk memproduksi secara masal,” kata dia. “Sekarang kami bisa memproduksinya 10-15 unit per minggu berstandar medis.”






Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

12 jam lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

1 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

1 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

1 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

1 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

1 hari lalu

Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

Pakar mengatakan apapun varian COVID-19, termasuk XBB.1.5 atau Kraken, protokol kesehatan belum berubah dan vaksin masih bermanfaat.


Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

2 hari lalu

Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

Yuni Shara sengaja menggunakan gaun tanpa lengan agar memudahkannya menerima suntikan vaksin di lengan kirinya.


Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

2 hari lalu

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

Harga minyak dunia naik 1 persen karena ekspektasi permintaan menguat dipicu menggeliatnya aktivitas ekonomi Cina.


Saran Pakar agar Terhindar dari Penularan Subvarian Kraken

2 hari lalu

Saran Pakar agar Terhindar dari Penularan Subvarian Kraken

Pakar merekomendasikan penggunaan masker kembali pada keadaan yang berisiko demi mencegah terkena subvarian Kraken.


Dosen Poliban Raih Predikat Asia Top 10.000 Scientists

2 hari lalu

Dosen Poliban Raih Predikat Asia Top 10.000 Scientists

Dua dosen Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) Kalimantan Selatan meraih predikat "Asia Top 10.000 Scientists".