Pesan Rapid Test COVID-19 via Aplikasi, Halodoc Gandeng 20 RS

Reporter

Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat melakukan rapid test untuk deteksi virus corona di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 2020. Rapid test dianggap efektif untuk mengetahui peta wilayah sebaran virus corona yang menginfeksi warga. Sayangnya tes ini masih terbatas di kalangan warga ODP dan PDP yang telah disaring terlebih dahulu karena keterbatasan test kit. TEMPO/Prim Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Aplikasi kesehatan, Halodoc, bekerja sama dengan 20 rumah sakit menawarkan layanan rapid test dan swab test COVID-19. Untuk kemudahan, peminat layanan bisa membuat janji terlebih dahulu lewat aplikasi yang menjadi mitra resmi pemerintah dalam penanggulangan pandemi penyakit itu.

"Layanan ini diluncurkan guna membantu upaya pemerintah dalam memperluas pelaksanaan tes massif COVID-19," bunyi pernyataan Halodoc, Senin 20 April 2020.

Layanan berlaku mulai hari yang sama, mencakup paket layanan kesehatan dan tes cepat serta tes PCR (Polymerase Chain Reaction)--atau yang lebih dikenal dengan tes swab. Sebanyak 20 rumah sakit yang terlibat dalam kerja sama ini tersebar di Jabodetabek hingga Karawang.

Mereka di antaranya Rumah Sakit Mitra Keluarga, Rumah Sakit St. Carolus, RS Mayapada, RS Primaya, dan Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Kolaborasi yang digalang untuk layanan itu diharapkan mampu menekan penyebaran COVID-19 dengan cara memetakan dan selanjutnya melakukan isolasi-isolasi atas kasusnya. 

Apabila ditemukan hasil reaktif (positif), baik dari rapid test maupun PCR, dokter akan mengevaluasi tingkat gejala pasien untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya. "Apakah perlu dirujuk ke rumah sakit khusus atau dapat ditangani di rumah," kata CEO Halodoc, Jonathan Sudharta, menuturkan.

Dalam kasus rapid test dengan hasil non reaktif (negatif), namun ada riwayat kontak atau ada gejala ringan, disarankan untuk melakukan rapid test ulang 7-10 hari kemudian. Ini karena ada kemungkinan antibodi belum terbentuk pada saat tes pertama.

"Hasil dari kedua tes tersebut, baik rapid test maupun PCR perlu dikonsultasikan kembali ke dokter, karena membutuhkan interpretasi dan rekomendasi dari seorang ahli," kata Chief of Medical Halodoc, Irwan Heriyanto.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam berbagai kesempatan juga menekankan urgensi kehadiran layanan tes yang efektif bagi masyarakat luas. Berdasar data WHO, sekitar 80 persen pasien COVID-19 di dunia hanya mengalami gejala ringan, dan bisa sembuh dengan perawatan di rumah tanpa perlu dirawat di rumah sakit.

Untuk mengakses paket layanan kesehatan tersebut, pengguna cukup memilih menu ‘COVID-19 Test’ yang ada di halaman awal aplikasi Halodoc, lalu memilih fasilitas tes yang dibutuhkan. Namun, pengguna harus memastikan bahwa aplikasi Haodoc yang digunakan adalah versi terbaru.

Setelah itu, pengguna dapat memilih lokasi rumah sakit, hari dan waktu tes, serta paket layanan yang diinginkan untuk rapid test, PCR, atau paket pemeriksaan kesehatan lainnya. Pengguna diwajibkan untuk melengkapi data diri dengan mengunggah foto kartu identitas sebagai kelengkapan proses pendaftaran dan menyelesaikan proses pembayaran.

Bukti pendaftaran akan didapatkan melalui SMS dan notifikasi di aplikasi Halodoc untuk digunakan kembali saat registrasi di lokasi tes.






Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

2 jam lalu

Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

Tahun Baru Imlek adalah hari libur terpenting tahun ini di Cina.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

2 jam lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Kemenko PMK-DEFGHI Dorong Pemanfaatan Aplikasi Ruang Digital Keluarga di Sekolah

6 jam lalu

Kemenko PMK-DEFGHI Dorong Pemanfaatan Aplikasi Ruang Digital Keluarga di Sekolah

Peluncuran aplikasi Ruang Digital Keluarga dalam rangka meningkatkan keadaban digital di keluarga.


Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

19 jam lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

1 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Inilah 6 Aplikasi yang Paling Banyak Digunakan Orang Indonesia 2022

1 hari lalu

Inilah 6 Aplikasi yang Paling Banyak Digunakan Orang Indonesia 2022

Whatsapp menjadi aplikasi paling populer yang digunakan masyarakat Indonesia, persentasinya mencapai 98,07 persen pengguna di Indonesia.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

1 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

1 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


Cara Melihat dan Menghapus Riwayat Google Maps di iPhone

1 hari lalu

Cara Melihat dan Menghapus Riwayat Google Maps di iPhone

Linimasa dari Google Maps bersifat pribadi sehingga sebaiknya hanya Anda yang dapat mengaksesnya.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

1 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.