Peneliti: Tsunami 15 Meter Ancam Kawasan Calon Ibu Kota Baru

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah masjid terlihat rusak parah akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah,  Sabtu, 29 September 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa Donggala sebanyak 384 jiwa per pukul 13.00 WIB, Sabtu, 29 September 2018. AP/Rifki

    Sebuah masjid terlihat rusak parah akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa Donggala sebanyak 384 jiwa per pukul 13.00 WIB, Sabtu, 29 September 2018. AP/Rifki

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan bahwa sesuai hasil penelitian, calon ibu kota negara di Kalimantan Timur rentan dilanda tsunami yang dipicu longsor bawah laut. Dengan volume longsoran mendekati 4 juta meter kubik, tsunami bisa setinggi lebih dari 15 meter seperti yang pernah terjadi di Papua Nugini pada 1998. 

    "Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan Pengurangan Risiko Bencananya," kata Widjo Kongko yang juga dikenal sebagai ahli tsunami dalam cuitannya di akun media sosial tentang perlunya upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi calon ibu kota negara, Kamis 23 April 2020.

    Widjo Kongko menggunakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, smong, untuk ancaman tsunami tersebut. Dia juga menyebut tsunami di Palu dan Krakatau sebagai contoh smong yang terjadi beberapa tahun lalu yang diakibatkan oleh longsor bawah laut.

    Menurutnya, kejadian smong di Indonesia yang disebabkan longsor di bawah laut lebih banyak daripada yang diperkirakan. Meski demikian, Widjo mengatakan, kajiannya tidak banyak.

    Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut hanya menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam, Jerman. Sedang di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi. "Smong yang dipicu longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 atau 100 meter," ujar Widjo Kongko.

    Cuitan awal Widjo terkait potensi smong di calon ibu kota negara di Kalimantan Timur tersebut mengomentari artikel yang dilansir BBC News berjudul Tsunami risk identified near future Indonesian capital pada Rabu 22 April 2020. Artikel itu mengungkap pemetaan longsoran bawah laut purba di Selat Makassar yang dilakukan tim peneliti Inggris dan Indonesia menggunakan data seismik. 

    Tim peneliti itu mendapati bahwa berdasarkan kajian awal, jika longsor bawah laut besar terulang lagi maka itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara yang diusulkan. Namun demikian tim peneliti internasional itu juga menyatakan masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

    Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan di Indonesia dalam 15 tahun terakhir, dipicu oleh berbagai mekanisme. Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatera di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudera Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatera menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

    Lalu tsunami Palu pada 28 September 2018 yang mekanismenya masih belum pasti antara kombinasi gempa kuat atau longsor bawah laut. Saat itu dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 meter, ditambah dengan likuefaksi menyapu 4.000 korban jiwa. 

    Pada Desember 2018, tsunami Gunung Anak Krakatau, di mana sayap gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut. Korban tewas 400 orang di pesisir Jawa dan Sumatera.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.