Virus Corona, Ahli: Masker Katun Dipadu Sutra atau Sifon Terbaik

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat bersama ojek daring mengantre Nasi Kotak dan Masker dari TNI di Markas Komando Gabungan Wilayah I, Jakarta, Selasa, 21 April 2020. Dalam rangka Hari Kartini TNI membagi bagikan makanan dan masker kepada masyarakat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Masyarakat bersama ojek daring mengantre Nasi Kotak dan Masker dari TNI di Markas Komando Gabungan Wilayah I, Jakarta, Selasa, 21 April 2020. Dalam rangka Hari Kartini TNI membagi bagikan makanan dan masker kepada masyarakat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan telah mengklaim bahwa masker buatan sendiri yang terbuat dari katun dikombinasikan dengan sutra alami atau sifon memberikan perlindungan terbaik terhadap virus corona.

    Sifon - digunakan untuk busana couture - dapat menyaring 99 persen droplet atau tetesan dari batuk dan bersin ketika ditempatkan di antara dua lapisan kapas, menurut studi  yang diterbitkan dalam jurnal ACS Nano dan dikutip Daily Mail, Jumat, 24 April 2020.

    "Satu lapisan kain katun yang diikat rapat dikombinasikan dengan dua lapis sifon poliester-spandex — kain tipis yang sering digunakan dalam gaun malam - menyaring partikel aerosol yang paling banyak,” kata penulis studi Supratik Guha dari University of Chicago.

    Para peneliti menemukan bahwa masker itu hampir sebagus pelindung yang digunakan oleh dokter dan perawat di rumah sakit - yang pasokannya sangat terbatas.

    Mengganti sifon dengan sutera alam atau kain flanel, atau hanya menggunakan selimut katun dengan katun-poliester, menghasilkan hasil yang serupa. “Kain tenunan yang rapat, seperti katun, dapat bertindak sebagai penghalang mekanis terhadap partikel,” kata Profesor Guha.

    "Kain yang menahan muatan statis, seperti sifon jenis tertentu dan sutera alam, berfungsi sebagai penghalang elektrostatik," tambahnya.

    Partikel-partikel virus berukuran kecil, mulai dari 0,1-0,3 mikron - tidak terlihat oleh mata telanjang - tetapi masker bedah dirancang untuk mencegahnya mengalir masuk dan keluar dari mulut.

    Namun, pelindung seperti itu tidak banyak - dan dicadangkan untuk petugas kesehatan yang merawat pasien dengan COVID-19.

    Jika dibuat dengan benar, masker buatan sendiri dapat mengurangi penularan dari pemakainya ke orang lain - dan sebaliknya - dengan menghambat tetesan dan semprotan yang dihasilkan saat kita bernapas, batuk atau bersin.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah merekomendasikan agar orang-orang memakai masker wajah saat berada di tempat umum. "Karena masker rumah sakit langka dan harus disediakan untuk pekerja kesehatan, banyak orang membuat masker sendiri," kata Profesor Guha.

    "Kombinasi kapas dengan sutera alam atau sifon secara efektif dapat menyaring partikel aerosol," tambahnya.

    COVID-19 menyebar terutama melalui tetesan pernapasan yang dilepaskan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernapas. Tetesan ini terbentuk dalam berbagai ukuran, tetapi yang terkecil - disebut aerosol - dapat dengan mudah masuk melalui celah di antara serat kain tertentu.

    DAILY MAIL | ACS NANO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.