Gejala COVID-19 Bukan Cuma Batuk, Demam, dan Sesak Napas

Petugas medis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumut memeriksa suhu tubuh seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Malaysia ketika akan mengikuti senam dan berjemur di bawah sinar matahari saat menjalani karantina di Pangkalan Udara Militer (Lanud) Soewondo Medan, Sumatera Utara, Sabtu, 11 April 2020. Sebanyak 513 TKI yang berasal dari berbagai daerah di Sumut dan sekitarnya yang menjalani proses karantina COVID-19 sementara tersebut saat ini kondisi kesehatannya baik dan tidak ada menunjukan gejala infeksi seperti demam, batuk dan sesak nafas. ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Sesak napas selama ini digunakan untuk mengenali atau membedakan infeksi virus corona COVID-19 dari virus corona penyebab flu pada umumnya. Gejala sesak napas, demam tinggi, dan batuk, begitu identifikasi yang digunakan sebelum dilakukan tes darah maupun gen virus.

Empat bulan berlalu sejak wabah virus corona itu menyebar di dunia, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui informasi tentang gejala tersebut. CDC menambah enam gejala baru pasien COVID-16 yakni panas dingin, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan kehilangan rasa atau bau.

“Orang yang terinfeksi COVID-19 dilaporkan memiliki beragam gejala, mulai dari ringan hingga parah yang mungkin muncul 2-14 hari setelah terpapar virus,” bunyi pernyataan CDC di situs webnya. 

Mengutip laman New York Post, Senin 27 April 2020, CDC sebelumnya menyebutkan, pasien terinfeksi virus corona hanya memiliki gejala demam, batuk, dan sesak atau kesulitan bernafas. Pembaruan dilakukan menyusul banyak kasus penyakit itu yang tidak disertai gejala, plus hasil penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford.

Hasil penelitian itu membuktikan tidak cukup mendeteksi seseorang terjangkit COVID-19 jika hanya berdasarkan tiga gejala itu saja. Tim peneliti menguji 1.217 spesimen dari 1.206 pasien COVID-19 dan hanya mendapati 116 pasien atau 9,5 persen yang positif hanya SARS-CoV-2, nama virus corona penyebab COVID-19.

Jumlahnya lebih besar, yakni 20,7 persen, untuk spesimen yang dites positif SARS-CoV-2 dan juga satu atau lebih patogen saluran pernapasan lainnya.  

Sebanyak 24 spesimen yang memiliki SARS-CoV-2 dan setidaknya satu patogen pernapasan lainnya lalu dites lagi. Hasilnya, positif untuk rhinovirus/enterovirus (6,9 persen), positif virus syncytial pernapasan (5,2 persen), positif virus corona lain (4,3 persen), dan sedikit di atas 3 persen untuk beberapa jenis influenza.

Jadi, studi itu menyimpulkan, jika seseorang memiliki infeksi virus pernapasan lain, orang tersebut masih bisa menderita COVID-19. Itu sebabnya CDC menyarankan agar siapa pun yang mengalami enam gejala tersebut harus segera mencari perhatian medis.

NEW YORK POST | FORBES






Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

22 jam lalu

Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

Tahun Baru Imlek adalah hari libur terpenting tahun ini di Cina.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

22 jam lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

1 hari lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

2 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

2 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

2 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

2 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

2 hari lalu

Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

Pakar mengatakan apapun varian COVID-19, termasuk XBB.1.5 atau Kraken, protokol kesehatan belum berubah dan vaksin masih bermanfaat.


Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

3 hari lalu

Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

Yuni Shara sengaja menggunakan gaun tanpa lengan agar memudahkannya menerima suntikan vaksin di lengan kirinya.


Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

3 hari lalu

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen, Terpengaruh Aktivitas Ekonomi Cina

Harga minyak dunia naik 1 persen karena ekspektasi permintaan menguat dipicu menggeliatnya aktivitas ekonomi Cina.