Riset di Cina, Potensi Vaksin COVID-19 Sukses Lindungi Monyet

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Para peneliti di Cina mengklaim telah mampu melindungi monyet dari infeksi virus corona COVID-19. Primata itu lebih dulu terlindungi daripada manusia lewat riset potensi vaksin yang dihasilkan tim di Sinovac Biotech.

    Hasil penelitian itu dipublikasikan sekalipun belum dikaji oleh ahli lain yang tidak terlibat studi.  Dalam makalahnya, penelitian disebutkan dilakukan dengan memberi dua dosis berbeda PiCoVacc ke delapan ekor monyet rhesus. Dosis yang lebih tinggi diklaim membuat kondisi monyet lebih baik.

    "Antibodi ini berpotensi menetralkan 10 strain SARS-CoV-2 yang representatif, menunjukkan kemungkinan kemampuan menetralisir yang lebih luas terhadap galur virus yang beredar di seluruh dunia," bunyi abstrak dari penelitian itu.

    Mengutip laman Fox News, Senin 27 April 2020, imunisasi dengan dua dosis berbeda (3 atau 6 mikrogram per dosis) memberikan perlindungan parsial atau lengkap pada monyet terhadap virus corona penyebab COVID-19 tersebut tanpa peningkatan infeksi.

    Menurut para penelitinya, evaluasi sistematis PiCoVacc dilakukan melalui pemantauan tanda-tanda klinis, hematologi, dan indeks biokimia, serta analisis histofatologis pada monyet-monyet itu. Seluruhnya disebut menunjukkan aman. "Data ini mendukung pengembangan klinis yang cepat dari vaksin SARS-CoV-2 untuk manusia."

    Dikutip dari laman Science Mag, yang pertama kali melaporkan hasil penelitian tersebut, PiCoVacc terdiri dari versi virus yang tidak aktif secara kimiawi. Uji klinis bahkan sudah dimulai per 16 April.

    Dasarnya, para peneliti tidak menemukan kehadiran virus di faring, krissum, dan paru-paru monyet dalam kelompok dengan dosis tertinggi setelah tujuh hari. Namun, ada kekhawatiran tentang penelitian ini, yakni tentang sejumlah kecil monyet yang diuji. Menurut peneliti dari University of Pittsburgh, Douglas Reed, itu menjadikan hasil tak signifikan secara statistik.

    Para penelitinya juga mengakui bahwa walaupun masih terlalu dini menentukan model hewan terbaik untuk mempelajari infeksi SARS-CoV-2. Tapi, mereka menilai, monyet rhesus yang meniru gejala mirip COVID-19 setelah infeksi SARS-CoV-2 muncul sebagai model hewan yang cukup menjanjikan untuk dipelajari.

    Sebelumnya, ilmuwan di National Institutes of Health (NIH), Inggris, juga menguji kandidat vaksin COVID-19 yang disebut ChAdOx1 pada jenis hewan yang sama. Bedanya, indikasi yang digunakan adalah infeksi virus corona sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV).

    MERS-CoV adalah juga keluarga virus corona. Dari dua kelompok dengan perlakuan dosis berbeda, para ilmuwan melaporkan, tidak ada satu pun hewan yang mengembangkan tanda-tanda penyakit MERS-CoV. Hasil itu mendorong ilmuwannya untuk segera menguji vaksin tersebut pada SARS-CoV-2.

    FOX NEWS | SCIENCE MAG | REPOSITORI BIORXIV


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.