Begini Ahli Kesehatan Bicara Rokok dan Corona di Indonesia

Ilustrasi rokok. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional Pengendalian Tembakau meminta masyarakat perokok di Indonesia menghentikan kebiasaannya untuk menghindari penyebaran virus corona COVID-19. Bukan hanya bahaya penyakit komplikasinya untuk infeksi yang lebih parah, risiko tertular pun disebutkan lebih tinggi pada para perokok.

Dalam video konferensi bertajuk ‘Surat untuk Presiden dari Organisasi Anggota/Mitra Komnas Pengendalian Tembakau’, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Hasbullah Thabrany, menerangkan, sepakat mendukung pemerintah dalam mengendalikan penyebaran penyakit virus corona 2019.

Tapi untuk itu dia meminta pemerintah lebih tegas dalam mengendalikan faktor risiko. Merokok diklaimnya sebagai satu di antara faktor risiko itu di tengah pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). "Bagaimana virus itu menular, saya harap pemerintah membaca pendapat kami ini, karena jika tidak teman-teman tenaga kesehatannya akan kewalahan,” ujar dia, Selasa, 28 April 2020.

Hasbullah menyodorkan data yang menunjukkan bahwa prevalensi perokok masyarakat Indonesia berada di angka tertinggi (33 persen) di ASEAN. Penduduk miskin dan kurang mampu, yang kini semakin banyak bergantung pada bantuan sosial untuk menghidupi keluarga juga masih saja merokok.

“Kalau tidak dikendalikan dengan baik atau digencarkan mengingatkan masyarakat jangan sampai merokok itu akan menjadikan beban bagi pemerintah,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Dia mendesak agar pemerintah melarang iklan rokok, memperketat kawasan tanpa rokok dan upaya lain yang memungkinkan membuat kebiasaan merokok dipatahkan. Alasannya, "Jika banyak yang sakit biayanya akan banyak juga."

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan, juga mengatakan kalau sebaiknya masyarakat mendahulukan memenuhi kebutuhan sembako dan lainnya di masa pandemi saat ini, ketimbang membeli rokok. 

“Kita harus tegas kepada pemerintah agar lebih fokus pada tembakau, jangan sampai uang kita dibakar untuk membeli tembakau di masa krisis ini, jadi ada yang lebih penting dibandingkan membeli rokok,” kata dia menuturkan.

Seperti yang lain, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto juga mengatakan ada berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa perokok sangat berisiko tertular virus corona. “Perokok pasif bahkan memiliki risiko lebih tinggi, karena sistem imunitas dan fungsi silia saluran pernapasannya sudah terganggu,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Agus dkk menepis hasil studi di Prancis yang menduga sebaliknya bahwa perokok aktif berisiko lebih rendah tertular virus corona COVID-19. Para peneliti di Prancis sedang meneliti apakah nikotin memiliki peran khusus membuat para perokok aktif itu terhindar dari penyakit yang sedang menebar pandemi tersebut.

Dalam pernyataannya, para peneliti yang bekerja di sejumlah rumah sakit besar di Paris itu mengklarifikasi kalau mereka tidak bermaksud mendorong kebiasaan merokok. Kebiasaan ini diakui bisa membawa risiko kesehatan yang parah bagi para perokok, termasuk jika dia sudah terinfeksi COVID-19.






Jokowi Kembali Cerita Soal Kebijakan di Awal Pandemi Ekonomi RI Bisa Minus 17 Persen Kalau Lockdown

18 jam lalu

Jokowi Kembali Cerita Soal Kebijakan di Awal Pandemi Ekonomi RI Bisa Minus 17 Persen Kalau Lockdown

Untuk ketiga kalinya, Presiden Jokowi bercerita soal kebijakan yang dia ambil di awal pandemi Covid-19 dengan tidak menerapkan lockdown.


Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

23 jam lalu

Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

Tahun Baru Imlek adalah hari libur terpenting tahun ini di Cina.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

23 jam lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

1 hari lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

2 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

2 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

2 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

2 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

2 hari lalu

Kraken Masuk Indonesia, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan dan Vaksinasi Booster

Pakar mengatakan apapun varian COVID-19, termasuk XBB.1.5 atau Kraken, protokol kesehatan belum berubah dan vaksin masih bermanfaat.


Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

3 hari lalu

Yuni Shara Vaksinasi Booster ke-2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rasanya Seperti...

Yuni Shara sengaja menggunakan gaun tanpa lengan agar memudahkannya menerima suntikan vaksin di lengan kirinya.