Obat Radang Sendi Juga Diuji ke Pasien COVID-19, Hasilnya ...

ilustrasi obat(pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Satu lagi jenis obat muncul sebagai harapan untuk para pasien penyakit virus corona 2019 atau COVID-19. Obat ini datang dari penelitian yang dilakukan di rumah sakit University of Paris, Prancis.

Penelitian itu melaporkan bahwa obat radang sendi (rheumatoid arthritis) dapat menyelamatkan pasien COVID-19 bergejala parah. Zat aktif bernama tocillizumab yang dijual dengan merek obat RoAcemtra dan Actemra disebut menunjukkan manfaat klinis pada pasien terinfeksi virus itu.

Studi dilakukan di rumah sakit University of Paris, Prancis, lewat uji terhadap 129 pasien pneumonia sedang hingga berat. Setengah dari pasien diberi dua dosis suntikan obat itu bersama dengan antibiotik, sementara setengah lainnya hanya diberikan pengobatan antibiotik normal. Obat RoAcemtra dan Actemra dijual di pasaran di negara itu seharga US$ 870 per dosis.

Mengutip dari New York Post, Selasa 28 April 2020, peneliti menemukan para pasien yang diberi dosis tocilizumab lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal. Pasien itu juga lebih sedikit yang perlu ventilator. 

Tocilizumab disebutkan dapat mencegah badai sitokin—reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh—yang menyerang sel-sel sehat. Badai sitokin terjadi pada kasus COVID-19 yang parah dan dapat mematikan.

Namun, penelitian lanjutan perlu dilakukan tentang bagaimana kemungkinan efek samping dari pengobatan menggunakan obat-obatan itu. Rumah sakit berdalih memberikan informasi awal penelitian itu hanya untuk alasan kesehatan masyarakat.

Di Amerika Serikat, sejumlah obat di luar kelompok yang memang sudang diuji klinis atas otorisasi WHO--di antaranya hydroxychloroquine yang juga biasa digunakan untuk rheumatoid arthritis, juga dicobakan ke pasien COVID-19. Obat itu adalah Pepcid, pemilik senyawa aktif famotidine. Uji telah dimulai terhadap pasien COVID-19 di Northwell Health di wilayah New York City.

Menurut sebuah laporan dari Cina dan hasil pemodelan molekuler, famotidine tampaknya mengikat enzim kunci pada sindrom pernapasan akut yang disebabkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. "Kita akan tahu itu dalam beberapa minggu ke depan apakah benar berhasil seperti itu," kata Kevin Tracey, mantan ahli bedah saraf yang bertanggung jawab atas penelitian di Northwell Health, seperti dikutip dari Science Mag, Minggu 26 April 2020.

NEW YORK POST | CTV NEW KANADA






Gerak Wajah Tak Terkendali, Apa Itu Tardive Dyskinesia?

18 jam lalu

Gerak Wajah Tak Terkendali, Apa Itu Tardive Dyskinesia?

Tardive dyskinesia istilah medis gangguan gerak wajah tak terkendali akibat efek samping dari obat antipsikotik


Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

21 jam lalu

Pembatasan Dihapus, Jumlah Perjalanan di Cina Saat Libur Imlek Meningkat

Tahun Baru Imlek adalah hari libur terpenting tahun ini di Cina.


Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

22 jam lalu

Kementerian Kesehatan Persiapkan Vaksinasi Covid-19 untuk Bayi dan Balita

Kementerian Kesehatan akan melakukan upaya sosialisasi vaksinasi Covid-19 untuk balita kepada masyarakat.


Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

1 hari lalu

Jepang Samakan Covid-19 dengan Flu Biasa, Aturan Wajib Masker Dicabut

Jepang tak lagi mewajibkan pemakaian masker di dalam ruangan. Covid-19 disamakan dengan sakit flu biasa.


Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

2 hari lalu

Inilah Kuota Haji Indonesia dalam 7 Tahun Terakhir

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 231.000 jemaah.


Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

2 hari lalu

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 di Masa Transisi Menuju Endemi, Heru Budi Tetapkan 4 Kegiatan

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono resmi mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

2 hari lalu

Pakar Ingatkan Campak Lebih Menular dari COVID-19

Pakar kesehatan mengatakan penyakit campak lebih menular dari COVID-19 dengan daya tular pada 12 hingga 13 orang di sekitar pasien.


CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

2 hari lalu

CDC Temukan Kasus Stroke Pada Lansia Penerima Vaksin Booster Pfizer

Dalam temuannya, CDC menyatakan lansia penerima vaksin booster Covid-19 Pfizer kedua kalinya berpotensi terkena stroke.


Polda Metro Jaya Sita Ratusan Ribu Obat Palsu dan Ilegal, Sebelas Orang Ditangkap

2 hari lalu

Polda Metro Jaya Sita Ratusan Ribu Obat Palsu dan Ilegal, Sebelas Orang Ditangkap

Polisi menyita 430 ribu butir obat palsu dan ilegal dari tangan para tersangka


Pengadilan Luksemburg Menangkan Malaysia Melawan Gugatan Rp224 Triliun

2 hari lalu

Pengadilan Luksemburg Menangkan Malaysia Melawan Gugatan Rp224 Triliun

Pengadilan Luksemburg memenangkan Malaysia dari keharusan membayar ganti rugi sebesar hampir Rp224 triliun terhadap keturunan Sultan Sulu