COVID-19, Lockdown, dan Nilai R yang 'Keramat' di Jerman

Reporter

Suasana perawatan pasien virus Corona dengan gejala parah di Hanau, Jerman, 16 April 2020. Peta penyebaran COVID-19 per 17 April 2020 pagi mencatat, jumlah kasus virus Corona di seluruh dunia mencapai 2.158.250 kasus. REUTERS/Kai Pfaffenbach

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Jerman terus memelototi angka reproduksi virus atau dikenal sebagai nilai R dalam kasus COVID-19 di negaranya. Nilai R, yang berarti berapa banyak orang yang bisa ditulari oleh setiap satu orang yang terinfeksi, digunakan sebagai tali kekang saat mulai mengendurkan penguncian wilayah-wilayah.

Jerman sudah mulai membuka kembali taman, tempat bermain, galeri, dan museum-museum dan termasuk negara pertama yang melonggarkan pembatasan-pembatasan itu. Mereka melakukannya dengan hati-hati sembari otoritas kesehatan setempat berusaha menjaga nilai R tetap di bawah satu untuk menghindari gelombang kedua wabah penyakit itu.

Nilai R sebesar 0,7 ketika lockdown mulai dikendurkan per 20 April lalu tapi kemudian naik menjadi 0,96 pada awal pekan ini, hingga menyalakan alarm di negeri itu tentang dampak pelonggaran yang sudah dilakukan. Namun, pada Kamis lalu, Badan Pengendali Penyakit di negara itu, Robert Koch Institute, mengatakan angkanya telah kembali turun ke 0,76 yang berarti rata-rata seorang yang terinfeksi SARS-CoV-2 saat ini hanya bisa menularkan virusnya ke kurang dari satu orang lain.

“Ini tentu perkembangan yang positif, dan seperti yang selalu saya katakan, ayo tetap menjaganya seperti itu,” kata kepala institut itu, Lothar Wieler.

Kanselir Jerman Angela Merkel telah mengatakan kalau menjaga nilai R di bawah satu mutlak harus dilakukan dan lonjakan sedikit saja bisa sangat menyulitkan untuk bisa diatasi otoritas kesehatan Jerman. Dia menegaskan social distancing dan larangan orang berkumpul di tempat publik tetap berlaku hingga 10 Mei mendatang.

Wieler mendukungnya tapi juga mengingatkan kalau nilai R hanya satu dari banyak indikator yang harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. “Artinya nilai R tidak berperan sendirian,” katanya.

Dia menjelaskan, jumlah kasus harian adalah angka lainnya yang harus diperhatikan, "Dan anda harus paham benar alasan kenapa kita melakukan ini semua.”

Orang-orang berkumpul di jalan untuk menyaksikan instalasi seni "Die Balkone" (balkon) di balkon, ketika penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) berlanjut, di Berlin, Jerman, 12 April 2020. REUTERS/Annegret Hilse

Wieler menjelaskan, jika berhasil menjaga angka-angka itu tetap rendah, otoritas kesehatan akan sukses melacak seluruh rantai infeksi lalu mengakhiri wabah dengan cepat. Sebagai catatan, kasus COVID-19 telah menyebabkan lebih dari 6.500 ribu orang meninggal dari 160 ribu yang terinfeksi di Jerman--kelima terbanyak di dunia.

Menurut Wieler, masyarakat Jerman harus belajar untuk hidup bersama virus COVID-19 dan aturan pembatasan-pembatasan hingga beberapa bulan lagi. Sembari tetap menjalankan tes-tes dan pemeriksaan untuk mengobati lebih banyak orang dan melacak virusnya.

“Kita harus hidup dalam apa yang disebut normalitas baru ini di mana kita harus memastikan virus itu tak punya peluang untuk menyebar,” katanya, “Dan itu akan terus berlanjut sepanjang kita belum memiliki vaksin yang membuat kita kebal."

EURONEWS | DW






Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

2 jam lalu

Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan prospek cerah.


Kanselir Jerman Sayangkan Sekutu Jor-Joran Pasok Senjata ke Ukraina

14 jam lalu

Kanselir Jerman Sayangkan Sekutu Jor-Joran Pasok Senjata ke Ukraina

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengkritik jor-joran di antara sejumlah negara pendukung Ukraina dalam memberikan senjata untuk menghadapi agresi Rusia


Jerman, Denmark, dan Belanda Sediakan 100 Tank Leopard 1 untuk Ukraina

1 hari lalu

Jerman, Denmark, dan Belanda Sediakan 100 Tank Leopard 1 untuk Ukraina

Jerman, Denmark dan Belanda akan mengumpulkan dana untuk menyediakan setidaknya 100 tank Leopard untuk Ukraina


MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

1 hari lalu

MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

Dirut MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan jumlah pengguna atau ridership pada 24 Maret 2019 - 31 Desember 2022 sebanyak 61.292.496 orang. Rinciannya, pada 2019 dengan target 65.000 penumpang, realisasinya 86.270 penumpang. Pada 2020 dengan target 26.065 penumpang, realisasinya 27.122 penumpang.


Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

1 hari lalu

Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

Kota New York tak lagi mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksin Covid-19.


Tekan Angka Kasus DBD dengan Langkah Berikut

1 hari lalu

Tekan Angka Kasus DBD dengan Langkah Berikut

Masyarakat bisa mencegah naiknya kasus DBD dengan melakukan vaksinasi hingga 3M (menguras, menutup, mengubur). Apa lagi?


BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

2 hari lalu

BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

BPS menyebut jumlah kunjungan wisawatan asing melonjak sebesar 384,12 persen secara yoy dan secara kumulatif meningkat 251,28 persen.


Komite Keamanan Minta Tank Leopard Swiss Tak Dipulangkan ke Jerman

3 hari lalu

Komite Keamanan Minta Tank Leopard Swiss Tak Dipulangkan ke Jerman

Swiss tercatat memiliki 87 unit tank Leopard, di mana 9 dari jumlah tersebut sudah pensiun dan saat ini disimpan di depot.


Jerman Memiliki Bukti Kejahatan Perang di Ukraina

4 hari lalu

Jerman Memiliki Bukti Kejahatan Perang di Ukraina

Moskow telah menolak tuduhan-tuduhan oleh Kiev dan negara-negara Barat untuk kejahatan perang.


Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

5 hari lalu

Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

Kasus virus flu burung yang menginfeksi hewan mamalia di Inggris dan Spanyol membuat para ahli khawatir selanjutnya bisa menular ke manusia.