2020 Tahun Terpanas dalam Sejarah, Suhu Asia Naik 3 Derajat

Warga menghalau sinar matahari dengan pakaiannya saat melakukan aktivitas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Indonesia akan mengalami panas selama kurang lebih satu minggu dengan suhu mencapai 37 derajat Celcius. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga ilmiah Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), memperkirakan dengan persentase 75 persen bahwa 2020 akan menjadi tahun dengan suhu terpanas. Wilayah yang paling terasa pada kuartal pertama 2020 adalah di Eropa Timur dan di Asia, di mana suhu rata-rata naik 3 derajat Celsius di atas normal.

Perkiraan tersebut akan memecahkan rekor suhu tinggi empat tahun lalu, meskipun isolasi wilayah akibat pandemi virus corona—yang diklaim memperbaiki kualitas udara—dilakukan. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan komprehensif harus diimplementasikan sebelum terlambat untuk melawan keadaan darurat iklim.

Data NOAA mengungkapkan ada kemungkinan 99,9 persen bahwa tahun ini akan masuk dalam 5 tahun teratas untuk suhu yang pernah direkam. Temuan ini mengejutkan para ilmuwan, karena tahun ini bukan tahun El Nino, fenomena yang biasanya membawa temperatur lebih tinggi.

“Tren ini mengikuti dengan cermat rekor terbaru 2016, ketika suhu global jauh lebih tinggi dari biasanya karena El Nino yang intens,” bunyi pernyataan NOAA, seperti dikutip laman Green Queen, Rabu, 29 April 2020.

Dalam perhitungan lain oleh Institut Goddard NASA untuk Studi Luar Angkasa di New York mengatakan, ada kemungkinan 60 persen tahun 2020 akan mencetak rekor untuk suhu tinggi. Temuan ini mengikuti peringatan awal tahun ini di bulan Januari, yang membuat bulan itu memecahkan rekor untuk Januari terpanas.

Selain Eropa Timur dan Asia, banyak wilayah dan kota yang terdampak, seperti di lingkaran Arktik yang tanpa salju pada bulan Februari lalu. Bahkan, suhu di Amerika Serikat dan Australia Barat juga telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir, dengan pusat kota Los Angeles mencatat ketinggian 34 derajat Celsius di bulan April.

Ilmuwan iklim dari Oxford of University Karsten Haustein mengatakan, lockdown dan larangan bepergian karena pandemi hanya mengurangi gas rumah kaca. Namun, menurutnya, sisa penumpukan emisi di atmosfer masih akan mendorong krisis iklim dengan konsekuensi bencana.

“Krisis iklim terus berlanjut. Emisi akan turun tahun ini, tetapi konsentrasinya terus meningkat,” ujarnya kepada The Guardian. 

Namun, Haustein menambahkan, masyarakat masih memiliki ‘peluang unik’ untuk mengubah lintasan global, dengan memanfaatkan krisis virus corona sebagai langkah awal perubahan untuk sarana transportasi dan produksi energi yang lebih berkelanjutan.

Dampak pemanasan global yang akan dihadapi cukup serius, misalnya dari segi mata pencaharian dan keamanan, sejumlah komunitas yang menghadapi kenaikan permukaan laut, khususnya orang yang tinggal di negara kepulauan di kawasan Pasifik. Ini akan terus mengancam lebih dari 1 miliar orang di Asia yang tinggal di daerah dataran rendah dan pesisir.

Pemanasan global juga akan meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan bencana iklim, seperti kebakaran hutan Australia yang dialami tahun lalu. Pada Februari lalu, lebih dari 200 ilmuwan di seluruh dunia di 52 negara juga memperingatkan pemerintah dan pebisnis bahwa ada kemungkinan besar berbagai bencana iklim akan terjadi.

GREEN QUEEN | THE GUARDIAN | NOAA






Kemenperin: Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Terbaik di Asia

6 hari lalu

Kemenperin: Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Terbaik di Asia

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan bahwa ekosistem kendaraan listrik Indonesia adalah yang terbaik di Asia.


Ini Prediksi Mengerikan Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Masyarakat Indonesia 2070

8 hari lalu

Ini Prediksi Mengerikan Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Masyarakat Indonesia 2070

Apa saja dampak perubahan iklim dan pemanasan global? Selain dari segi ekonomi, perubahan iklim juga jelas berdampak pada kesehatan makhluk hidup.


Studi: Lebih Cepat, Separuh Gletser Dunia Akan Lenyap pada 2100

32 hari lalu

Studi: Lebih Cepat, Separuh Gletser Dunia Akan Lenyap pada 2100

Pencairan es gletser menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan permukaan laut.


Sering Dengar Istilah Cuaca Ekstrem, Begini Ciri-ciri dan Penyebabnya

36 hari lalu

Sering Dengar Istilah Cuaca Ekstrem, Begini Ciri-ciri dan Penyebabnya

Cuaca ekstrem terjadi saat peristiwa cuaca sangat berbeda dari rata-rata atau pola cuaca biasanya. Apa penyebab dan ciri-cirinya?


Inilah 4 Lembaga Antikorupsi di Asia Selain KPK

40 hari lalu

Inilah 4 Lembaga Antikorupsi di Asia Selain KPK

Tak hanya di Indonesia, berikut negara-negara di Asia yang memiliki lembaga antikorupsi.


Top 3 Dunia: Suhu Minus 48 Derajat New York, Rudal Iskander Rusia di Belarusia

43 hari lalu

Top 3 Dunia: Suhu Minus 48 Derajat New York, Rudal Iskander Rusia di Belarusia

Berita Top 3 Dunia pada Senin 26 Desember 2022 diawali oleh kabar suhu minus 48 derajat di New York, Amerika Serikat menyebabkan 30 orang tewas


Hujan Diprediksi Turun di Jakarta pada Senin Siang Ini

51 hari lalu

Hujan Diprediksi Turun di Jakarta pada Senin Siang Ini

BMKG memprediksi DKI Jakarta akan diguyur hujan pada Senin siang dan dini hari, 19 Desember 2022.


Cuaca Jakarta Diprediksi Hujan Petir pada Sore Jelang Malam Hari Ini

28 November 2022

Cuaca Jakarta Diprediksi Hujan Petir pada Sore Jelang Malam Hari Ini

BMKG, Senin, 28 November 2022, menginformasikan bahwa sejumlah wilayah di DKI Jakarta berpotensi diguyur hujan petir pada sore menjelang malam hari.


Dampak Perubahan Iklim, 9 Kota di Dunia Ini Terancam Tenggelam pada 2050

26 November 2022

Dampak Perubahan Iklim, 9 Kota di Dunia Ini Terancam Tenggelam pada 2050

Ancaman terjadi bukan dikarenakan akibat perubahan iklim saja melainkan dikarenakan pemanasan global dan permukaan air laut naik dengan cepat.


COP27 Mesir: Apa Saja yang Gagal, yang Berhasil dan yang Baru

24 November 2022

COP27 Mesir: Apa Saja yang Gagal, yang Berhasil dan yang Baru

Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP27 telah berakhir pada Minggu 20 November 2022. Kebanyakan ilmuwan iklim frustasi dengan hasilnya. Kenapa?