Peneliti Rangkong Gading Indonesia Raih Whitley Award 2020

YokYok (Yoki) Hadiprakarsa, peneliti rangkong gading. Kredit: Whitley Award

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti rangkong gading asal Indonesia, Yokyok Hadiprakarsa alias Yoki, menjadi salah satu dari enam pemenang Whitley Award 2020, atau yang dikenal juga sebagai Green Oscar.

Yoki terpilih atas program Saving The Last Stronghold of The Helmeted Hornbill atau Penjaga Rangkong Gading, sebuah program yang dijalankan oleh Rangkong Indonesia, unit Penelitian dan Konservasi Terestrial dari Rekam Nusantara Foundation yang fokus kegiatannya untuk penelitian dan konservasi burung rangkong di Indonesia.

Direktur Eksekutif Rekam Nusantara Foundation Een Irawan Putra menyampaikan bahwa penghargaan ini memberikan semangat dan optimisme atas kinerja timnya di tengah-tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

“Banyak kegiatan dan aktivitas kami yang ditunda dan dibatalkan akibat adanya Covid-19. Semoga persebaran virus ini segera berakhir dan kami bisa kembali beraktivitas bersama masyarakat dan mitra untuk melanjutkan kampanye dan edukasi untuk pelestarian sumber daya alam Indonesia”, kata Een melalui keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2020.

Meski tahun ini seremoni Whitley Award 2020 harus ditunda akibat pandemi Covid-19, pengumuman pemenang tetap dilakukan secara daring dan para pemenang tetap menerima dana hibah senilai 40 ribu poundsterling (Rp 752,5 juta).

Melalui Rangkong Indonesia, dana tersebut akan digunakan untuk melanjutkan penyelamatan spesies rangkong gading. Yoki sendiri telah mendedikasikan penelitiannya dalam 20 tahun terakhir untuk konservasi rangkong gading di Indonesia.

Ironisnya rangkong gading saat ini berstatus kritis. Burung bernama latin Rhinoplax vigil menjadi satwa primadona yang diburu dan dijual balungnya. Akibat perdagangan ilegal, rangkong gading terus menghadapi ancaman kepunahan.

Indonesia merupakan habitat dan populasi terbesar Rangkong gading di dunia, namun saat ini keberadaanya di alam sudah semakin langka, bahkan di beberapa tempat sudah punah.

Hilangnya hutan sebagai habitat utama dan perburuan yang masif merupakan perpaduan mematikan terhadap keterancaman rangkong gading di Indonesia. Kehilangan rangkong gading dan 12 jenis rangkong lainnya di Indonesia menjadikan kesehatan hutan di Indonesia akan terganggu, mengingat fungsi ekologisnya sebagai pemencar biji paling efektif.

Dalam penelitiannya, Yoki mengungkapkan bahwa perburuan yang dilakukan umumnya oleh masyarakat setempat merupakan keterpaksaan ekonomi jangka pendek, padahal keindahan dan kemegahan rangkong gading bisa memberikan potensi ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, melalui ekowisata dan pengamatan burung. “Rangkong gading lebih berharga hidup daripada mati,” ucap dia.

Pada tahun 2017, kata Yoki, Rangkong Indonesia mulai membangun kerja sama dengan masyarakat adat suku Iban di dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kegiatan di Sungai Utik dimulai dengan mengajak beberapa pemuda untuk mengamati keberadaan burung rangkong gading dan beberapa jenis rangkong lainnya di hutan adat mereka yang luasnya sekitar 9.000 hektare.

Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan membekali keterampilan, pengetahuan serta mendorong pelestarian berbasis ekowisata, yakni pengamatan rangkong dan habitat sarangnya, sehingga keberadaan rangkong gading justru dirasa lebih berharga ketika hidup daripada mati.

Kemudian sejak tahun 2018, dengan dukungan Yayasan KEHATI - TFCA Kalimantan, Yoki bersama tim Rangkong Indonesia melakukan survei populasi dan okupansi serta merekam kondisi terkini rangkong gading di beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Untuk memperluas diseminasi informasi, tim Rangkong Indonesia juga melakukan kampanye edukasi kepada publik.

“Penghargaan ini sejatinya ditujukan kepada masyarakat yang tinggal berdampingan bersama rangkong gading dan rangkong lainnya di Kalimantan. Saya bersama Rangkong Indonesia hanya berfungsi sebagai medium untuk membantu perubahan kondisi rangkong gading di alam bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Sejatinya pelindung sejati rangkong gading adalah masyarakat,” kata Yoki.






Penemuan Kota Tua Suku Maya Berusia 2.000 Tahun di Guatemala, Ada Jalan, Piramida Hingga Waduk

9 hari lalu

Penemuan Kota Tua Suku Maya Berusia 2.000 Tahun di Guatemala, Ada Jalan, Piramida Hingga Waduk

Temuan tentang kota tua suku Maya itu dipublikasikan dalam jurnal Ancient Mesoamerica pada bulan Desember.


Muncul Pulau Usai Gempa Maluku, Peneliti Badan Geologi Ungkap Banyak Hipotesis

18 hari lalu

Muncul Pulau Usai Gempa Maluku, Peneliti Badan Geologi Ungkap Banyak Hipotesis

Fenomena pulau yang muncul usai gempa Maluku masih menjadi pertanyaan, apakah diakibatkan oleh dampak ikutan akibat gempa atau bukan.


6 Fakta Unik dan Menakjubkan Otak Manusia

21 hari lalu

6 Fakta Unik dan Menakjubkan Otak Manusia

Otak sebagai salah satu organ tubuh paling vital manusia nyatanya masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.


Peneliti Nanoteknologi Unpad Raih Penghargaan Inovasi Berhadiah Rp 65 Juta

28 hari lalu

Peneliti Nanoteknologi Unpad Raih Penghargaan Inovasi Berhadiah Rp 65 Juta

Unpad mengumumkan hasil penilaian itu di acara Apresiasi Inovasi di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung.


Minta Maaf ke Publik, Peneliti BRIN Akui Prediksi Cuacanya Meleset

28 hari lalu

Minta Maaf ke Publik, Peneliti BRIN Akui Prediksi Cuacanya Meleset

Menurut peneliti BRIN Erma Yulihastin, terjadi misinterpretasi publik mengenai istilah badai dahsyat.


Polemik Cuaca 28 Desember BMKG dan BRIN, Peneliti: Saling Dukung untuk Mitigasi

31 hari lalu

Polemik Cuaca 28 Desember BMKG dan BRIN, Peneliti: Saling Dukung untuk Mitigasi

Perubahan alam, cuaca ekstrem dan perubahan iklim perlu disampaikan ke masyarakat agar tidak panik.


Tiga Pertanda Kemunculan Cuaca Buruk yang Bisa Diamati Masyarakat

31 hari lalu

Tiga Pertanda Kemunculan Cuaca Buruk yang Bisa Diamati Masyarakat

Pertanda cuaca buruk itu terkait dengan angin, awan, dan matahari.


Jadi Polemik, Peneliti BRIN Sebut Istilah Badai Banyak Jenisnya

31 hari lalu

Jadi Polemik, Peneliti BRIN Sebut Istilah Badai Banyak Jenisnya

Terminologi badai dalam meteorologi merujuk ke sebuah sistem dan jenisnya banyak.


Peneliti BRIN Jelaskan Badai Dahsyat Jabodetabek, Rabu Pagi Membentuk Pusaran

31 hari lalu

Peneliti BRIN Jelaskan Badai Dahsyat Jabodetabek, Rabu Pagi Membentuk Pusaran

Dari citra data dan awan Rabu pagi, badai itu sudah membentuk pusaran dan bisa memicu garis-garis badai atau squall line.


Bikin Tabung Pemantau Kondisi Air Laut, Peneliti Unpad Raih Penghargaan Inovasi

35 hari lalu

Bikin Tabung Pemantau Kondisi Air Laut, Peneliti Unpad Raih Penghargaan Inovasi

Alat buatan tim peneliti Unpad itu meraih juara pertama dan kedua di ajang Kompetisi Inovasi Jawa Barat 2022.