Begadang Jangan Begadang Kalau Tak Mau Idap Alzheimer

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perbedaan otak penderita alzheimer dan otak yang sehat. (cdn.powerofpositivity.com)

    Perbedaan otak penderita alzheimer dan otak yang sehat. (cdn.powerofpositivity.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Begadang satu malam saja sudah cukup untuk meningkatkan kadar protein dalam darah yang terkait dengan kejadian penyakit Alzheimer. Temuan ini menuntun kepada dugaan bahwa kebiasaan tidur cukup setiap malam di usia muda bisa menghindarkan seseorang dari penyakit yang merusak memori, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif itu pada masa tuanya.

    Orang-orang dengan penyakit Alzheimer memiliki gumpalan dua protein lengket—beta-amyloid dan tau—dalam otaknya. Riset sebelumnya telah menemukan satu malam saja susah tidur meningkatkan kadar beta-amyloid di otak, tapi belum banyak yang diketahui tentang efeknya kepada tau.

    Untuk mencari jawabnya, Jonathan Cedernaes di Uppsala University, Swedia, dan koleganya menggunakan pendekatan kadar tau dalam darah. Mereka lalu mengundang 15 pria muda sehat, berusia rata-rata 22 tahun, ke klinik tidur pada Januari lalu dan mengukur perubahan kadar tau setelah masing-masing dibuat mengalami tidur nyenyak dan begadang sepanjang malam.

    Setelah semalaman tak tidur, kadar tau dalam darah para pria muda itu rata-rata naik sebesar 17 persen. Bandingkan dengan kenaikan dua persen saja setelah mereka tidur nyenyak pada malam harinya.

    Cedernaes menyadari apa yang dilakukannya hanya pada kelompok kecil. Tak diketahui juga apakah pola yang sama terjadi pada perempuan. Tapi temuan yang didapat dianggapnya cukup menambah bukti kalau orang-orang yang memiliki pola tidur tak teratur kemungkinan mengembangkan penyakit Alzheimer beberapa dekade kemudian.

    “Kami percaya ini setidaknya menyediakan indikasi kalau anak-anak muda harus memperhatikan kebutuhan tidurnya,” katanya.

    Cedernaes menambahkan, butuh lebih banyak riset untuk memastikan kurang tidur juga berarti meningkatkan kadar tau di otak. Ini karena kadarnya di dalam darah tidak selalu mengindikasikan yang ada di otak.

    “Bisa saja kadar tau yang lebih tinggi dalam darah setelah kurang tidur itu justru mengindikasikan otak yang membersihkan protein itu ketimbang mengakumulasinya.”

    Jika protein tau benar terakumulasi di otak anak muda setelah kurang tidur, Cedernaes mengatakan, uji klinis harus membuktikan optimalisasi tidur membantu memperlambat atau mencegah akumulasi itu, dan menurunkan risiko penyakit Alzheimer.

    Tau juga terlibat dalam penyakit Parkinson dan Creutzfeldt-Jakob, tapi sama seperti pada Alzheimer, peran protein itu pada kedua penyakit belum jelas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.