UI Kembangkan Alat Deteksi Pneumonia Covid-19 Berbasis AI

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ara Wiraswara (39), seorang ASN, menunjukkan hasil rontgen paru-paru miliknya di Bogor. Dari pengalaman Ara selama menjalani isolasi di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, dukungan moral sangat dibutuhkan oleh pasien. Butuh keberanian yang luar biasa bagi seseorang untuk mengakui bahwa dirinya mengidap positif COVID-19 dikarenakan masih adanya stigma negatif dari sebagian masyarakat terhadap pasien. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Ara Wiraswara (39), seorang ASN, menunjukkan hasil rontgen paru-paru miliknya di Bogor. Dari pengalaman Ara selama menjalani isolasi di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, dukungan moral sangat dibutuhkan oleh pasien. Butuh keberanian yang luar biasa bagi seseorang untuk mengakui bahwa dirinya mengidap positif COVID-19 dikarenakan masih adanya stigma negatif dari sebagian masyarakat terhadap pasien. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim riset di Universitas Indonesia mengembangkan alat bantu prediksi kasus pneumonia akibat Covid-19 menggunakan program berbasis artificial intelligence deep-learning. Mengklaim akurasi sampai 98,44 persen, penggunaan alat itu bisa menambah keyakinan diagnosis dan mengurangi beban kerja dokter yang menangani kasus Covid-19.

    Program tersebut dirancang oleh tim mahasiswa S2 serta alumni dari Departemen Fisika FMIPA UI yang tergabung dalam tim riset AIRA (artificial intelligence for radiological applications). Mereka terdiri dari Kelompok Bidang Ilmu (KBI) Fisika Medis & Biofisika serta KBI Instrumentasi Fisika. 

    Koordinator Tim AIRA, Lukmanda Evan Lubis, menerangkan bahwa alat yang dinamakan DSS-CovIDNet tersebut menggunakan konsep convolutional neural network untuk melakukan klasifikasi dari citra rontgen dada ke dalam tiga kelompok, yakni pneumonia COVID-19, pneumonia Non-Covid-19, dan paru normal. "Tingkat akurasinya mencapai 98,44%," kata dia dalam keterangan tertulis yang dibagikan, Jumat 15 Mei 2020.

    Wakil Rektor UI bidang Riset dan Inovasi, Abdul Haris mengatakan tingkat akurasi yang tinggi membuat alat ini unggul. "Akses data juga kami buka dengan harapan memudahkan para peneliti untuk turut menyempurnakan program ini," kata Haris. 

    Dia mengungkap, penelitian deteksi pneumonia menggunakan teknologi kecerdasan buatan juga dikerjakan tim peneliti interdisipliner lainnya di UI. Mereka adalah tim di Fakultas Kedokteran UI (FKUI) yang bekerja sama dengan DELFT Imaging CAD4COVID. 

    Ada juga kelompok peneliti di FKUI mengembangkan algoritma deteksi. Berikutnya, tim peneliti dari Fakultas Ilmu Komputer UI yang bekerja sama dengan tim dari AI Center Fakultas yang sama. 

    Deskripsi mengenai metode dan hasil sementara menggunakan dataset opensource dapat diunduh di https://arxiv.org/abs/2005.04562. Sedang proses validasi dengan menggunakan data pasien anonim Indonesia telah diinisiasi melalui kerja sama dengan staf Departemen Radiologi FKUI, tim Unit Radiologi Rumah Sakit UI (RSUI), dan Instalasi Radiologi RSUD Cibinong.

    Pembuatan program tersebut didukung penuh oleh FMIPA UI dan dapat diakses untuk uji coba pada http://sci.ui.ac.id/detectcovid/ dengan menggunakan access key yang dapat diminta secara gratis via email ke aira.medphy.ui@gmail.com. Pengguna terbatas hanya untuk tenaga medis dan kesehatan di bidang radiologi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Catatan Larangan Pemakaian Kantong Plastik di DKI Jakarta

    Pergub DKI Jakarta tentang larangan pemakaian kantong plastik berlaku 1 Juli 2020. Ada sejumlah sanksi denda dan pencabutan izin usaha bila melanggar.