Lockdown Covid-19: Penjualan Video Game Catat Rekor di AS

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para gamer memainkan Nintendo Switch Lite untuk permainan multiplayer. Nintendo Co Ltd bakal mengubah markas pertama mereka di Kyoto menjadi sebuah hotel butik. Foto: Nintendo

    Para gamer memainkan Nintendo Switch Lite untuk permainan multiplayer. Nintendo Co Ltd bakal mengubah markas pertama mereka di Kyoto menjadi sebuah hotel butik. Foto: Nintendo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan karantina wilayah untuk menahan penyebaran virus corona Covid-19 menjadi anugerah bagi setidaknya satu industri, yaitu video game. Menurut analisis kelompok riset pasar NPD, penjualan video game mencapai nilai tertinggi dalam sejarah pada kuartal pertama 2020, mencapai US$ 10,86 miliar, meningkat hampir 10 persen dari tahun lalu.

    Dari total itu, sekitar US$ 9,5 miliar secara langsung terkait dengan pembelian konten video game. Menurut NPD, kebijakan karantina wilayah atau lockdown menjadi alasan di balik kenaikan signifikan penjualan.

    "Video game telah membawa kenyamanan dan koneksi ke jutaan selama masa yang penuh tantangan ini," ujar analis NPD Mat Piscatella kepada TechCrunch, Jumat, 15 Mei 2020.

    Karena orang lebih sering tinggal di rumah, mereka telah menggunakan game tidak hanya sebagai pengalih perhatian dan pelarian, tapi juga sebagai sarana untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman. Baik itu di konsol atau seluler, PC atau realitas virtual, game mengalami pertumbuhan penjualan selama kuartal pertama.

    Peningkatan terjadi khususnya penjualan game Animal Crossing: New Horizons, yang juga mendorong peningkatan di pasar konsol. Baru-baru ini, Nintendo Switch menjadi konsol terlaris perusahaan sepanjang masa dan bulan lalu raksasa game itu melaporkan penjualannya berlipat ganda dari tahun ke tahun.

    Bagian terbaru dari franchise Animal Crossing Nintendo yang pertama kali dirilis pada konsol sejak 2008 juga menjadi game terlaris tahun 2020 dan menjadi yang terlaris sepanjang masa, demikian dikutip laman Daily Mail.

    Membanjirnya minat untuk membeli dan bermain video game juga telah direalisasikan di tempat lain selama lockdown, khususnya pengaruh pada bandwidth internet. PlayStation dan Microsoft sama-sama terpaksa mengurangi kecepatan unduhan sebagai akibat dari penambahan jumlah pengguna yang bermain online.

    Kedua perusahaan itu bergabung dengan raksasa teknologi lainnya seperti YouTube, Amazon dan Netflix yang juga mengurangi kualitas unduhan mereka untuk mengatasi meningkatnya permintaan.

    DAILY MAIL | TECH CRUNCH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.