Bos Facebook Pilih Obat daripada Vaksin Covid-19, Simak Alasannya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, pria asal Palo Alto, California, menepati urutan kelima orang terkaya di dunia 2018 versi Forbes dengan kisaran kekayaan 71 miliar Dollar AS. REUTERS

    Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, pria asal Palo Alto, California, menepati urutan kelima orang terkaya di dunia 2018 versi Forbes dengan kisaran kekayaan 71 miliar Dollar AS. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - CEO Facebook Mark Zuckerberg bicara potensi vaksin Covid-19 yang, menurutnya, belum akan tersedia sampai 2021. Pernyataannya bertolak belakang dengan yang di antaranya disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Saat tampil di acara Hugh Hewitt, Zuckerberg mengatakan terus waspada dengan pandemi yang sedang terjadi. Dia mengakui bukan ahli soal vaksin dan virus penyakit, tapi informasi dibagikannya berdasarkan yang sudah didengarnya.

    Seperti diketahui, Zuckerberg, melalui Chan Zuckerberg Initiative, telah ikut mengeluarkan dana US$ 25 juta untuk penelitian tentang Covid-19. "Saya tidak berpikir bahwa kita harus mengharapkan vaksin tahun ini," katanya, seperti dikutip lamam Fox News, Rabu, 20 Mei 2020.

    Zuckerberg menerangkan, kebutuhan menguji vaksin untuk keamanan dan kemanjurannya sebelum dirilis ke publik sebagai alasan penantian tersebut. Dia juga menjelaskan risiko yang tidak diketahui yang dapat menunda pengembangan vaksin.

    Menurut informasi yang didapatnya, vaksin Ebola yang akan segera disongsong manusia di Bumi. Itu pun karena sudah makan waktu selama empat tahun.

    "Bahkan kalaupun siap pada akhir tahun atau 2021, (vaksin Covid-19) itu akan menjadi...Anda tahu...itu tetap saja akan ada banyak risiko yang bisa berakhir lama juga," katanya. 

    Tapi tidak dengan terapi obat. Menurut Zuckerberg, para peneliti dapat menggunakan obat-obatan yang telah disetujui untuk menguji kemanjuran dalam mengobati iCovid-19 daripada harus melipatgandakan pengujian vaksin.

    "Di sana, Anda mendapatkan manfaatnya, tidak seperti pengembangan vaksin," katanya sambil menambahkan, "Di mana Anda tahu bahwa obat-obatan ini aman, atau setidaknya efek sampingnya didokumentasikan dengan baik."

    Jadi di sini, Zuckerberg menambahkan, peneliti hanya menguji efektivitas obat. Misalnya, Remdesivir, "Yang bukan berarti itu merupakan obat mujarab untuk mengobati Covid-19, tapi ini adalah langkah kecil ke arah yang benar dan memberikan sesuatu yang dapat mereka bangun sebagai sebuah perusahaan obat," katanya menuturkan.

    Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengumumkan kemitraan publik-swasta baru untuk mengembangkan vaksin Covid-19 sebagai bagian dari 'Operation Warp Speed'. Tujuannya, menyelesaikan pengembangan dan kemudian memproduksi dan mendistribusikan vaksin yang sudah teruji sebelum akhir tahun ini.

    "Saya pikir kita akan memiliki beberapa hasil yang sangat baik dan keluar dengan sangat cepat," ujar sang presiden.

    FOX NEWS | HUGHHEWITT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.