Ke Pemerintah, Ahli: Investigasi Tren Meningkat Kematian Covid-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dari Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota melakukan aksi kampanye bahaya Covid-19 dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan peti mati di depan pemakaman Tanah Kusir, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Petugas dari Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota melakukan aksi kampanye bahaya Covid-19 dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan peti mati di depan pemakaman Tanah Kusir, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli Virologi Universitas Udayana, Profesor G. N. Mahardika, meminta tak cemas dengan rekor penambahan kasus positif Covid-19 yang mendekati angka 1.000 orang pada Kamis 21 Mei 2020. Secara virologi, dia mengungkap ada masalah yang lebih besar yang sedang terjadi di Indonesia.

    “Kecenderungan kasus fatal yang meningkat yang mesti segera diintervensi,” kata Mahardika dalam keterangan tertulisnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Yang mengkhawatirkan, menurutnya, justru tren angka kasus fatal yang kembali mendekati puncak sekitar hari ke-50 sejak konfirmasi Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret lalu. Dia berharap tren ini mendapat perhatian serius dari pemerintah.

    "Data kasus Covid-19 harian yang fatal yang mestinya membuat khawatir. Akar masalahnya harus segera diinvestigasi dan intervensi terbaik harus segera dilakukan," kata dia.

    Ia mengaku sulit mengidentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi pada statistik kematian itu. Penyebabnya bisa saja keterlambatan pelaporan atau letupan kasus satu bulan yang lalu. Sementara data umur pasien yang sedang dalam perawatan intensif juga sulit diakses. "Itu tantangan utama Indonesia saat ini," katanya.

    Selain itu, Mahardika mengingatkan, pemerintah juga mesti segera menyediakan kamar perawatan rumah sakit untuk kasus berat yang memadai. Dia mengatakan pernah hitung untuk Indonesia dengan 280 juta penduduk, jumlah ketersediaan kamar rumah sakit dengan ventilator minimum 11.200 unit.

    "Sebagai pembanding, Jerman konon punya 36 ribu kamar seperti itu, bahkan pasien berat dari negara lain sampai diterbangkan ke sana," katanya.

    Setelah rumah sakit tersedia, menurut dia, barulah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dapat dilonggarkan dengan syarat warga bertingkah laku aman Covid-19. Mahardika merujuk perilaku memakai masker, membiasakan cuci tangan, menjaga jarak jika harus ke luar rumah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.