Sebab Krisis Pandemi, FSGI: Jangan Sampai Ada Siswa Tinggal Kelas

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak tertidur di pagi hari saat berlakunya masa PSBB di Jakarta, 20 April 2020. Seluruh sekolah di Jakarta telah menerapkan sistem belajar dari rumah sejak pertengahan Maret 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang anak tertidur di pagi hari saat berlakunya masa PSBB di Jakarta, 20 April 2020. Seluruh sekolah di Jakarta telah menerapkan sistem belajar dari rumah sejak pertengahan Maret 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama memberikan penguatan kembali kepada dinas pendidikan dan kepala sekolah (termasuk guru) di masa krisis pandemi saat ini. FSGI mengingatkan bahwa prinsipnya siswa jangan dirugikan karena masa krisis ini.

    "Jangan sampai ada siswa tak naik kelas di masa krisis pandemi ini," kata Wakil Sekjen FSGI, Fahriza Tanjung, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 28 Mei 2020.

    Menurut FSGI, pengelolaan sekolah yang sudah berdasarkan "Manajemen Berbasis Sekolah" (MBS), yang bermakna ada otonomi yang besar dari sekolah, tetap harus diawasi. Alasannya, ada tantangan bagi kepala sekolah, pengawas, dan dinas pendidikan yang terkadang tak cukup arif dan bijak dalam proses penilaian siswa di masa pandemi.

    FSGI meminta Kemendikbud memperbaiki pengelolaan metode Pembelajaran Jarak Jauh terutama kompetensi guru. Persoalan lainnya adalah sebagian guru yang mungkin masih berusaha menyelesaikan target capaian kurikulum sampai selesai sesuai dengan perencanaan, yang dipastikan memberatkan siswa di masa krisis pandemi.

    Guru membuat tugas dan berinteraksi dengan siswa lewat Google Classroom di SMP Lazuardi Kamila Global Compassianote School (SCS), Solo, Jawa Tengah, Selasa 17 Maret 2020. Sekolah setempat menerapkan pembelajaran secara daring menyusul aturan Pemerintah Kota Solo yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) virus Corona dengan meliburkan sekolah selama 14 hari setelah adanya satu pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia dan satu dirawat di ruang isolasi RSUD Moewardi, Solo. ANTARA FOTO/Maulana Surya

    "Kemendikbud dan Kemenag wajib membuat evaluasi terhadap pelaksanaan PJJ yang sudah dilaksanakan selama tiga bulan terakhir," bunyi pernyataa FSGI sambil mengapresiasi Kemenag yang disebut sudah membuat desain kurikulum darurat selama pandemi.

    Bersama dengan peringatan tersebut, FSGI juga meminta pembelajaran daring atau online terus diperpanjang hingga kondisi dipastikan membaik, tanpa menggeser tahun ajaran baru. FSGI berpendapat, jika wacana pembukaan sekolah pada pertengahan Juli 2020 harus dipikirkan matang-matang, tidak tergesa-gesa, dan harus memperhatikan data terkait penanganan Covid-19 di tiap wilayah.

    FSGI berpandangan bahwa keselamatan dan kesehatan siswa dan guru adalah yang utama, menjadi prioritas. Organisasi ini berkaca kepada pengalaman di Prancis, Finlandia, Korea Selatan, dan negara lainnya. "Kami mendukung pernyataan Nadiem Makarim yang menunggu keputusan dari Gugus Tugas Covid-19 terkait mana wilayah yang benar-benar zona hijau dan yang tidak," kata Fahriza.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.