Produk Indonesia Antre Sertifikasi WHO, Kenali Level Baju Hazmat

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis penanganan COVID-19 mengenakan APD ketika berada di ruang isolasi Rumah Sakit rujukan khusus pasien COVID-19 Martha Friska di Medan, Sumatera Utara, Kamis, 2 April 2020. Sebanyak 102 pasien dinyatakan sembuh dari virus corona hari ini. ANTARA/Septianda Perdana

    Petugas medis penanganan COVID-19 mengenakan APD ketika berada di ruang isolasi Rumah Sakit rujukan khusus pasien COVID-19 Martha Friska di Medan, Sumatera Utara, Kamis, 2 April 2020. Sebanyak 102 pasien dinyatakan sembuh dari virus corona hari ini. ANTARA/Septianda Perdana

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa perusahaan Indonesia dilaporkan sedang mengajukan permohonan agar Badan Kesehatan Dunia atau WHO menguji produk alat perlindungan diri petugas medis atau yang juga dikenal sebagai baju pelindung dari material berbahaya (hazardous materialhazmat). Mereka memproduksinya dan berharap mendapatkan sertifikasi seperti yang sudah didapat PT Sritex.

    Pengajuan diungkap Konsul Jenderal RI di New York lewat keterangan tertulis Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, Kamis 28 Mei 2020. Konjen RI berharap, produk-produk lainnya juga bisa lolos dan mendapatkan sertifikat ISO 16604 Class 3 seperti yang sudah dikantongi APD Overall dari PT Sritex yang kini telah dipasarkan sebagai APD NKRI itu.

    Doni menerangkan, dengan predikat lolos uji laboratorium sertifikasi ISO 16604 Class 3, produk APD PT. Sritex telah dinyatakan memiliki ketahanan terhadap penetrasi bacteriophage dengan ukuran yang sangat kecil. "Tingkat kualitasnya lebih tinggi daripada tingkat kualitas sertifikasi ISO 16604 Class 2 yang merupakan syarat minimum APD berstandar internasional yang ditetapkan oleh WHO," katanya. 

    Presiden Direktur PT Sritex, Iwan Lukminto, mengaku memimpin langsung pengembangan produk APD atau baju hazmat class 3 agar bisa mendapatkan sertifikasi tersebut. Menurutnya, Sritex sebelumnya telah pula memproduksi APD Class 1 dan Class 2. "Sritex mampu memproduksi APD kelas 1 sampai 500 ribu buah setiap bulannya," katanya.

    Menurut definisi Kementerian Dalam Negeri Amerika Serikat, baju hazmat memang terdiri dari tiga, bahkan empat, kelas atau level. Seluruhnya dibedakan berdasarkan kemampuannya melindungi pengguna dari material berbahaya seperti benda-benda maupun zat kimia, biologi dan radioaktif.

    Perlidungan tertinggi diberikan oleh Level atau Kelas 1 yang mencegah kontaminasi pada kulit, mata, dan sistem pernapasan. Baju ini yang banyak disebut baju astronot membutuhkan: Full face Self Contained Breathing Apparatus (SCBA), sistem komunikasi radio dua arah, sepatu boot tinggi sampai di bawah lutut yang melindungi kaki dari benda baja, sarung tangan anti bahan kimia. 

    Baju hazmat atau APD Class 2 hanya beda untuk tingkat perlindungan kulit dan tubuh luar penggunanya yang tidak setinggi Class 1. Sedang Class 3 adalah mungkin yang paling jamak terlihat publik--serupa Class 2 tapi tidak sama tingkat perlindungannya untuk sistem pernapasan penggunanya.

    Adapun APD Class 4 tidak lain baju keselamatan kerja di proyek-proyek konstruksi yang tak memberi perlindugan untuk paparan kimia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.