Aman Berolahraga Pakai Masker? Ini Kata Dokter Spesialis Olahraga

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi olahraga dengan wajah ditutup masker. Sumber: China News Service via Getty Ima/mirror.co.uk

    Ilustrasi olahraga dengan wajah ditutup masker. Sumber: China News Service via Getty Ima/mirror.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter spesialis kedokteran olahraga Michael Triangto menanggapi beredarnya video yang menginformasikan tentang bahaya berolahraga dengan menggunakan masker. Viralnya kabar tersebut membuat banyak pecinta olahraga menjadi panik dan berusaha mencari penjelasan yang benar dari berita tersebut.

    Menurut Michael, hal pertama yang harus dijelaskan adalah peraturan pemerintah tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengharuskan menggunakan masker saat berada di luar rumah. Sehingga, jika masyarakat berada di luar rumah, maka diwajibkan menggunakan masker termasuk saat berolahraga.

    Masalahnya adalah, kata dia, dengan menggunakan masker saat olahraga, orang akan merasakan bernapas kurang lega, sesak, tidak nyaman dan hal itu tentunya wajar karena tujuan utama dari penggunaannya adalah untuk melindungi pemakainya dari kemungkinan terinfeksi virus. "Juga melindungi orang lain dari kemungkinan kita menginfeksi mereka, terutama bila kita sedang tidak sehat," ujar dia, dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2020.

    Jika masker digunakan saat berolahraga, dapat dimengerti bila ada yang merasakan sesak terutama pada olahraga berintensitas berat. Hal ini sesuai dengan narasi yang ada di dalam video yang beredar di mana dikatakan korban menjadi sulit bernapas, sehingga hal tersebut adalah wajar.

    Hal yang tidak wajar adalah, Michael menambahkan, mengapa yang bersangkutan harus berolahraga berat? Dari Panduan Hidup Aktif Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) menunjukkan kurva huruf "J" (di kutip dari 'Immune function and exercise' 2011), yaitu hubungan antara intensitas berolahraga dan risiko mengalami infeksi penyakit.

    "Dari titik awal kurva tersebut yang berada di titik paling kiri memperlihatkan titik di mana kemungkinan terinfeksinya seseorang bila tidak berolahraga," kata Michael yang juga Direktur Slim&Health Sports Center Jakarta.

    Titik terendah dari kurva "J" tadi berada di tengah yang menunjukkan bila berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang, maka risiko yang dihadapi menjadi rendah. Sedangkan di titik paling kanan menunjukkan jika berolahraga dengan intensitas berat, maka berpotensi mengalami risiko terinfeksi tertinggi, termasuk Covid-19, dan juga cedera maupun gangguan kesehatan lainnya.

    Dari penjelasan tersebut, Michael menyarankan, sebelum berolahraga setiap individu sebaiknya mengetahui dengan jelas tujuan dari kegiatannya itu. Jika tujuannya untuk sehat tentunya yang bersangkutan hanya boleh melakukan olahraga berintensitas ringan sampai sedang saja, sehingga tidak akan terganggu dengan penggunaan masker sesuai aturan PSBB.

    Bagi yang ingin tetap berolahraga berat, Michael berujar, tentunya tidak akan bisa dilarang, sehingga boleh tetap dilakukan olahraga, tapi dianjurkan dilakukan di dalam rumah. "Sehingga tidak diwajibkan menggunakan masker dan kemungkinan untuk terinfeksi maupun menginfeksi dari dan ke orang lain sedikit," tutur dia.

    Yang perlu dipahami adalah olahraga berintensitas berat hanya diperuntukkan bagi atlet yang akan bertanding, sehingga tujuan kesehatan bukanlah menjadi prioritas utama mereka. Masker yang digunakan juga ternyata banyak macamnya, di antaranya masker untuk meminimalkan kemungkinan terinfeksi Covid-19, yaitu N95, masker bedah ataupun masker kain yang banyak digunakan masyarakat.

    Penggunaan masker jenis N95 akan sangat mempengaruhi fungsi pernapasan penggunanya karena hanya diperuntukkan bagi petugas medis, misalnya di ruang-ruang isolasi dan ICU yang khusus merawat penderita Covid-19. Masker bedah tentunya lebih rendah kemampuan menyaring udaranya, sehingga pemakaiannya tidak terlalu menyesakkan.

    "Dan masker kain lebih nyaman saat dipakai, dan untuk berolahraga di luar ruangan lebih dianjurkan menggunakan masker bedah atau masker kain yang banyak di pasaran," ujar Michael.

    Michael juga menjelaskan manfaat lain dari penggunaan masker selain mencegah penularan infeksi. Secara teoritis, kata dia, kurangnya oksigen yang masuk ke paru-paru diharapkan dapat melatih pemakai masker agar terbiasa dengan oksigen yang tipis. Hal itu mirip dengan kondisi penduduk yang tinggal di tempat-tempat yang lebih tinggi dari permukaan laut.

    Umumnya mereka memiliki kadar hemoglobin yang lebih tinggi dari pada penduduk yang tinggal di daerah pesisir, tapi hal itu membutuhkan waktu adaptasi yang panjang. "Untuk itu masih dibutuhkan banyak penelitian tentang penggunaan masker saat berolahraga termasuk pula lama penggunaannya agar mampu memperjelas manfaat masker bagi kesehatan," katanya.

    Michael menyimpulkan bahwa berolahraga yang sehat cukup dengan intensitas ringan sampai dengan sedang sehingga penggunaan masker tidak akan mempersulit sistem pernapasan. "Ini tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan, atau menyebabkan kematian. Kecuali bagi yang memiliki gangguan kesehatan misalnya TBC paru," tutur dia.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.