Hacker Terus Serang Industri Kesehatan di AS, Ini yang Terjadi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker. (e-propethic.com)

    Ilustrasi hacker. (e-propethic.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Serangan siber tanpa henti terhadap organisasi bidang kesehatan di Amerika Serikat selama dua tahun terakhir telah menyebabkan kerugian lebih dari US$ 1,8 triliun. Serangan hacker tersebut dikabarkan telah menyebabkan sebanyak lebih dari 7,8 miliar catatan konsumen bobol. 

    Situasi tersebut terungkap dalam laporan Consumer Identity Breach Report ForgeRock 2020. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News,
    Chief Technology Officer di ForgeRock Eve Maler menjelaskan bahwa bentuk utama serangan siber--yakni sebanyak 40 persen dari pelanggaran data tahun lalu--terjadi sebagai apa yang disebut serangan akses tidak sah.

    "Akses tidak sah berarti penjahat siber benar-benar masuk ke akun online menggunakan nama pengguna dan kata sandi yang sebelumnya dicuri atau mungkin data pribadi lainnya tentang mereka," kata Maler.

    Dia juga menggarisbawahi bahwa industri perawatan kesehatan adalah yang paling terpukul, dengan 45 persen serangan terjadi di sektor ini pada 2019. Hingga kini, Maler menyayangkan catatan perawatan kesehatan di Amerika dinilainya masih rentan.

    "Data semakin buruk untuk kuartal pertama 2020, dan industri perawatan kesehatan sekali lagi menjadi target besar," kata Maler. Dia menambahkan, "Bahkan lebih dari 50 persen pelanggaran data sejauh ini pada 2020 adalah untuk industri perawatan kesehatan."

    Data baru ini, Maler berujar, dapat meresahkan terutama karena meningkatnya permintaan untuk telemedicine dan perawatan jarak jauh di tengah pandemi Covid-19. Pakar keamanan siber mencatat bahwa peretas biasanya mengambil informasi pengenal pribadi selama serangan siber, seperti catatan perawatan kesehatan.

    Menurut Maler, catatan perawatan kesehatan sangat menarik bagi penjahat dunia maya karena itu adalah data fisik. "Ini data digital. Ini data tentang tubuh Anda. Ini data tentang tempat tinggal Anda. Ini tanggal lahir Anda, informasi yang sangat berharga," kata dia.

    Untungnya, Maler mengatakan, ada langkah-langkah yang dapat diterapkan konsumen untuk melindungi informasi mereka, termasuk verifikasi dua faktor. Itu berarti memberikan kata sandi dan membuktikan identitas konsumen dengan cara alternatif untuk mendapatkan penggunaan data.

    Maler menyarankan konsumen untuk tidak hanya meningkatkan penggunaan otentikasi dua faktor saja, tapi juga untuk mencari penyedia yang menawarkan kesempatan menggunakan otentikasi multifaktor. Saat pandemi seperti ini dan banyak orang memulai hubungan baru dengan penyedia layanan baru, karena mereka melakukan hal-hal baru dari rumah, ini dilihat sebagai peluang untuk menopang kekuatan dan metode perlindungan.

    "Anda dapat membalik lembaran baru dan memastikan mengaktifkan metode perlindungan baru yang lebih kuat dari kejahatan siber. Dan mencari cara untuk melakukannya dengan nyaman dengan penyedia layanan server yang Anda percayai," ujar Maler.

    FORGEROCK'S EVE | FOX NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.