Presiden Iran: Pesta Pernikahan Bikin Virus Corona Menyebar Lagi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Iran mengenakan masker pelindung untuk mencegah penularan virus Corona, ketika mereka berjalan kaki di Teheran, Iran 25 Februari 2020. [WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS]

    Warga Iran mengenakan masker pelindung untuk mencegah penularan virus Corona, ketika mereka berjalan kaki di Teheran, Iran 25 Februari 2020. [WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS]

    TEMPO.CO, Dubai - Sebuah pesta pernikahan memicu lonjakan baru kasus positif Covid-19 di Iran. Presiden Hassan Rouhani mengatakan itu pada Sabtu, 6 Juni 2020, dengan tetap kukuh kalau negara itu tidak memiliki pilihan kecuali tetap membuka aktivitas ekonominya kembali.

    Iran, yang secara bertahap melonggarkan penguncian wilayah atau lockdown sejak pertengahan April, telah melaporkan peningkatan tajam kasus harian dalam beberapa hari terakhir. Jumlah 3.574 kasus baru sepanjang Kamis lalu bahkan tercatat yang tertinggi sejak Februari, ketika kasus positif infeksi virus itu pertama kali dilaporkan di Iran.

    "Di satu lokasi, kami menyaksikan puncak epidemi ini, yang sumbernya adalah pernikahan yang menyebabkan masalah bagi orang-orang, pekerja kesehatan, dan kerugian bagi ekonomi dan sistem kesehatan negara itu," kata Rouhani dalam pertemuan yang disiarkan televisi di Teheran.

    Dia tidak mengatakan kapan atau di mana pernikahan itu berlangsung. Rouhani hanya mengatakan kalau kasus positif harian telah berkurang menjadi 2.269 pada Sabtu ini. Total kasus positif Covid-19 di Iran menjadi 169.425 dengan kematian 8.209 orang. Di dunia, Iran kini menempati peringkat ke-11 penyumbang jumlah kasus positif terbanyak dan ke-10 untuk jumlah korban meninggal.

    Pejabat kesehatan Iran telah memperingatkan tentang gelombang kedua wabah infeksi virus itu begitu lockdown dibuka. Tetapi juga menyebut kemungkinan penyebab lonjakan kasus baru adalah pengujian yang lebih luas.

    Seorang pejabat mengatakan sekitar 70 persen dari kasus baru di Teheran termasuk di antara mereka yang telah bepergian ke luar ibu kota dalam beberapa hari terakhir. Tapi situasi tersebut dianggap tak terhindarkan.

    "Dalam keadaan ini, tidak ada pilihan lain. Kita harus bekerja, pabrik kita harus aktif, toko kita harus terbuka, dan harus ada pergerakan di negara sejauh yang diperlukan," kata Rouhani.

    Universitas-universitas di Iran juga telah dibuka kembali pada hari ini setelah ditutup selama lebih dari 3,5 bulan. Sedang taman-taman akan dibuka kembali Sabtu pekan depan. Perjalanan wisata domestik juga dapat dilanjutkan, begitu pula kelas tentang Al Quran, musik, dan bahasa.

    Mulai 21 Juni, Pemerintah Iran juga mengizinkan bioskop, teater, ruang konser, dan ruang musik dibuka kembali tetapi hanya akan diisi 50 persen dari kapasitas. Lebih banyak masjid juga akan diizinkan untuk dibuka, setelah masjid di daerah berisiko rendah sudah lebih dulu dibuka kembali bulan lalu.

    Sumber: Reuters, Johns Hopkins University


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.