Aplikasi dari Cina Ini Mirip TikTok tapi Populer di Amerika

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Zynn, aplikasi video pendek mirip TikTok dari Cina. (ANTARA/AFP)

    Zynn, aplikasi video pendek mirip TikTok dari Cina. (ANTARA/AFP)

    TEMPO.CO, Jakarta - Aplikasi video pendek asal Cina, Zynn, mendapat sambutan baik di Amerika Serikat dengan jumlah pengguna baru yang terus bertambah. Aplikasi ini mirip TikTok asal negara yang sama dan juga populer di dunia tapi 'dimusuhi' di Amerika karena dicurigai terkait perlakuannya terhadap kerahasiaan data pribadi pengguna maupun kepatuhannya terhadap agenda pemerintahan di Beijing. 

    Zynn, aplikasi video asal Cina kedua dari Kuaishou, hanya membutuhkan satu bulan sejak peluncuran pada Mei, untuk menjadi aplikasi gratis terpopuler di Apple App Store AS. Namun, dikutip dari AFP pada Minggu, 7 Juni 2020, sebagian pengguna mengatakan Zynn mirip TikTok.

    Aplikasi ini memungkinkan penggunanya melihat feed berisi video pendek yang menampilkan pengguna lain sedang menari atau beraktivitas dengan latar suara musik. Yang membedakannya adalah Zynn menyodorkan hadiah uang kepada pengguna di AS dan Kanada apabila mereka mengajak rekan-rekannya mengunduh aplikasi itu.

    Jika teman yang diundang mengunduh aplikasi kemudian tercatat aktif menggunakan platform tersebut, Zynn memberikan uang hingga 20 dolar AS kepada pengundang itu. Zynn juga memberikan poin dalam jumlah tertentu yang dapat diuangkan kepada pengguna yang ogah membuat konten video dan lebih gemar menyaksikan timeline.

    Dalam hal itu, Zynn meniru aplikasi agregator berita AS, Qutoutiao, yang disebut sebagai aplikasi pertama yang memberikan uang tunai untuk menjaring pengguna baru. Metode pembayaran seperti itu dianggap berisiko, namun digunakan untuk menarik minat pengguna aplikasi secara jangka panjang.

    Hal yang akan diteliti Zynn adalah, apakah orang-orang di Amerika Serikat itu memakai aplikasi itu karena uang atau mereka memang tertarik memakai aplikasi sehingga hadiah itu hanyalah keuntungan sekunder.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.