WHO Sambut Baik Hasil Uji Coba Dexamethasone untuk Covid-19

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dexamethasone, obat yang telah beredar luas ini, ditemukan mampu mengurangi risiko kematian pasien Covid-19 dengan gejala yang parah. (REUTERS/YVES HERMAN)

    Dexamethasone, obat yang telah beredar luas ini, ditemukan mampu mengurangi risiko kematian pasien Covid-19 dengan gejala yang parah. (REUTERS/YVES HERMAN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa hasil uji klinis awal dari obat steroid Dexamethasone untuk pasien virus corona Covid-19 adalah kabar baik. Pengujian yang dilakukan tim peneliti University of Oxford mendapati obat itu mampu mengurangi 35 persen kematian pada pasien dengan ventilator.

    Menurut Tedros, hal itu merupakan pengobatan pertama yang ditujukan untuk mengurangi angka kematian pada pasien Covid-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator. Mengutip laman BBC News, saat ini 50 persen pasien Covid-19 yang membutuhkan ventilator tidak bertahan hidup.

    "Ini adalah berita bagus dan saya mengucapkan selamat kepada Pemerintah Inggris, University of Oxford, dan banyak rumah sakit dan pasien di Inggris yang telah berkontribusi pada terobosan ilmiah dan menyelamatkan nyawa ini," ujar Tedros, seperti dikutip laman Fox News, Rabu, 17 Juni 2020.

    Dexamethasone, yang telah digunakan sejak 1960-an sebagai anti-inflamasi untuk pasien radang sendi dan asma ini, dijual tidak mahal dan tersedia secara luas. Peneliti University of Oxford mengatakan obat ini juga mengurangi kematian pada pasien virus corona dengan oksigen hingga seperlima.

    Pimpinan peneliti dalam uji coba itu, Peter Horby, menyatakan dexamethasone adalah obat pertama yang ditujukan untuk meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien Covid-19.

    "Manfaat bertahan hidup jelas dan besar pada pasien yang sakit sehingga membutuhkan perawatan oksigen," kata dia, yang juga profesor penyakit menular dari University of Oxford.

    Temuan itu belum dipublikasikan atau mendapat peer-review, dan WHO ingin melihat ke depan mengenai bagaimana hasil analisis akhirnya. Horby mengatakan dexamethasone akan menjadi standar untuk pasien Covid-19 yang memiliki gejala yang parah di Inggris.

    Seorang ahli paru, Sam Parnia, mengatakan dengan asumsi bahwa ketika melalui peer review dan hasilnya cocok, ini akan menjadi penelitian yang sudah mapan. "Ini adalah terobosan besar, ini terobosan besar. Saya tidak bisa menekankan betapa pentingnya hal ini," tutur Parnia, yang juga profesor kedokteran di New York University kepada The New York Times.

    Temuan ini adalah bagian dari uji klinis terbesar di dunia obat yang ada dalam pengobatan virus. Para peneliti mengklaim 5.000 nyawa bisa diselamatkan di Inggris jika dexamethasone telah digunakan sejak awal pandemi. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebutkan hasil penelitian itu sebagai pencapaian ilmiah Inggris yang luar biasa.

    Satu-satunya obat lain yang secara klinis terbukti bermanfaat bagi pasien Covid-19 adalah remdesivir, obat Ebola dengan persediaan terbatas yang mengurangi virus. Namun, hasil uji coba itu belum menunjukkan bahwa itu dapat mengurangi angka kematian.

    FOX NEWS | BBC NEWS | THE NEW YORK TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaga Badan Saat Pandemi Covid-19

    Banyak rutinitas keseharian kita yang dibatasi selama pandemi Covid-19. Salah satunya menyangkut olahraga