Kabut Asap Kebakaran Hutan Disebut Tingkatkan Risiko Covid-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan memenuhi Kota Pekanbaru, Riau, Rabu, 18 September 2019.  TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan memenuhi Kota Pekanbaru, Riau, Rabu, 18 September 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, khususnya yang berasal dari lahan gambut, bisa meningkatkan risiko penyakit virus corona 2019. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyampaikan itu usai rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 23 Juni 2020.

    Dia menuturkan, asap yang pekat bisa menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki asma atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). "Dampaknya adalah berbahaya bagi mereka yang menderita penyakit asma ini apabila terpapar Covid-19,” kata Doni 

    Maka itu, kata Doni, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan upaya pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak terjadi. Doni meminta kerja sama lebih erat antara seluruh komponen masyarakat di seluruh daerah untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan terutama di daerah yang memiliki lahan gambut. 

    “Kita hindari asap agar kita juga bisa selamat dari bahaya Covid-19,” kata dia menambahkan.

    Saat membuka rapat terbatas itu, Presiden Joko Widodo memperingatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus nanti. Saat ini, sebanyak 17 persen wilayah Indonesia sudah mengalami kemarau sejak April, sebanyak 38 persen yang mulai Mei 2020, dan 27 persen per bulan ini.

    Terkait antisipasi bencana yang sama, Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca yang baru saja dilakukan di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi diklaim telah menghasilkan lebih dari 165 juta meter kubik air hujan. Operasi untuk siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan itu dilakukan dalam dua gelombang di Riau (11 Maret-2 April dan 13-31 Mei) dan satu kali di Sumatera Selatan dan Jambi (2-14 Juni).

    Indroyono Soesilo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), membenarkan keterisian muka air pasca operasi hujan buatan itu. Menurutnya, selama pelaksanaan operasi di Riau, tinggi muka air lahan gambut di 60 kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) mengalami kenaikan.

    "Juga TMA lahan gambut di 16 wilayah HTI di Sumatera Selatan dan 5 wilayah HTI di Provinsi Jambi juga cenderung naik,” ujarnya dalam sebuah webinar Rabu 17 Juni 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.