BMKG: Jawa Tengah Bagian Selatan Segera Masuk Musim Kemarau

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    TEMPO.CO, Purwokerto - Wilayah Jawa Tengah bagian selatan termasuk Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya segera memasuki musim kemarau, kata Kepala Kelompok Teknisi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo.

    "Kalau berdasarkan prakiraan sebelumnya, Cilacap dan sekitarnya harusnya sudah masuk awal musim kemarau pada bulan Juni. Namun sampai dengan dasarian (10 hari) kedua bulan Juni, akumulasi curah hujannya masih tinggi," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis, 25 Juni 2020.

    Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung akumulasi curah hujan di Kota Cilacap sampai dasarian kedua bulan Juni hampir mencapai 200 milimeter.

    Dengan kondisi yang demikian, menurut dia, Cilacap dan beberapa wilayah di pesisir selatan Jawa Tengah dapat dikatakan belum memasuki musim kemarau.

    "Namun dalam beberapa waktu terakhir tanda-tanda akan datangnya musim kemarau secara meteorologi sudah mulai dirasakan, antara lain suhu udara pada dini hari mulai dingin, anginnya sudah timuran kuat, dan kadang-kadang sudah muncul kabut," katanya.

    Selain itu, ia melanjutkan, tanda-tanda alam seperti suara tonggeret atau garengpung (sebutan untuk segala jenis serangga anggota subordo Cicadomorpha, ordo Homoptera) sudah mulai terdengar. Menurut kearifan lokal, ia mengatakan, suara tonggeret menandakan adanya pergantian musim.

    Teguh memprakirakan wilayah Jawa Tengah bagian selatan, terutama Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya akan memasuki musim kemarau pada dasarian pertama bulan Juli 2020.

    "Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya kekeringan dan kebakaran lahan," katanya.

    Mengenai kondisi perairan, Teguh menjelaskan, gelombang tinggi hingga sangat tinggi masih berpotensi terjadi di perairan selatan Jawa Barat-Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Jawa Barat-Daerah Istimewa Yogyakarta karena sekarang sudah memasuki musim angin timuran.

    Ia mengatakan, tinggi gelombang maksimum di perairan selatan Jawa Barat-Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Jawa Barat-Daerah Istimewa Yogyakarta dalam beberapa hari ke depan diprakirakan berkisar 2,5 sampai empat meter atau termasuk kategori tinggi.

    "Tinggi gelombang empat sampai enam meter atau sangat tinggi masih berpotensi terjadi karena puncaknya pada bulan Agustus," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.