Studi dari Cina Peringatkan Potensi Pandemi Virus Baru dari Babi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peternakan babi di Cina [The Weekly Times]

    Peternakan babi di Cina [The Weekly Times]

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil studi dari tim peneliti Cina memperingatkan adanya virus flu baru asal babi. Virus baru tersebut dikatakan lebih berpotensi menular ke manusia dan karenanya perlu diawasi secara ketat untuk kewaspadaan pandemi baru.

    Peringatan datang setelah para peneliti mempelajari virus influenza yang ditemukan pada babi sepanjang 2011-2018. Mereka mendapati galur  'G4' dari H1N1 yang memiliki semua ciri penting dari virus yang bisa menciptakan pandemi. Virus baru ini diidentifikasi sebagai rekombinasi varian H1N1 2009 dan jenis yang pernah ditemukan pada babi.

    "Peternak babi menunjukkan peningkatan kadar virus dalam darah mereka. Pemantauan ketat pada populasi manusia, terutama pekerja di industri babi, harus segera dilaksanakan," kata para peneliti, seperti dikutip laman Reuters, Selasa 30 Juni 2020.

    Studi yang diterbitkan dalam Prosiding Akademi Sains Nasional (PNAS) di Amerika Serikat ini menyoroti risiko virus melintasi penghalang untuk melompat ke manusia. Terutama di daerah padat penduduk di Cina, di mana jutaan orang tinggal dekat dengan peternakan, fasilitas pemuliaan, rumah pemotongan hewan dan pasar basah.

    Studi tersebut mengatakan babi dianggap sebagai 'mixing vessels' yang penting untuk menghasilkan virus pandemi influenza dan karenanya menyerukan pengawasan sistematis. Cina telah mengambil tindakan terhadap merebaknya H1N1 unggas pada 2009, membatasi penerbangan dari negara-negara yang terkena dampak dan menempatkan puluhan ribu orang di karantina.

    Ahli biologi di University of Washington, Carl Bergstrom, menegaskan, virus itu memang mampu menginfeksi manusia, tapi tidak ada risiko yang sifatnya segera untuk sebuah pandemi baru. "Tidak ada bukti bahwa G4 beredar pada manusia, meski telah terpapar lima tahun," ujar dia melalui akun Twitter pribadinya. "Itulah konteks kunci yang perlu diingat."

    Adapun juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, mengatakan bahwa negaranya mengikuti perkembangan penelitian itu. "Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah penyebaran virus apa pun," kata dia.

    Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan akan membaca penelitian Cina itu dengan hati-hati. Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan bahwa penting untuk berkolaborasi pada temuan dan mengawasi populasi hewan.

    "Ini juga menyoroti bahwa kita perlu mewaspadai influenza dan melanjutkan pengawasan bahkan dalam pandemi virus corona," katanya.

    Pandemi virus corona Covid-19 yang telah menyapu dunia diyakini berasal dari kelelawar tapal kuda di barat daya Cina. Virus menular dan menyebar ke manusia melalui pasar makanan laut di pusat kota Wuhan, tempat virus pertama kali diidentifikasi. Lebih dari 10,3 juta orang telah dilaporkan terinfeksi oleh virus corona baru ini secara global dan 504.269 telah meninggal.

    REUTERS | PNAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.