Arkeolog Sebut Pabrik Semen Akan Rusak Situs Budaya Lembah Baliem

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Honai atau rumah tradisional  dengan latar belakang kawasan karst pegunungan Jayawijaya di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 Agustus 2017. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Tempo/Rully Kesuma

    Honai atau rumah tradisional dengan latar belakang kawasan karst pegunungan Jayawijaya di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 Agustus 2017. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Arkeolog dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto meminta Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk memikirkan dan mengkaji kembali mengenai rencana pembangunan pabrik semen di Lembah Baliem, Wamena. Menurutnya, jika hal itu dilakukan maka bisa merusak situs budaya dan kondisi alam Lembah Baliem.

    Hari menerangkan, pabrik semen tersebut akan merusak ekologi dan situs arkeologi, serta menjadi tumpuan hidup Suku Dani yang menempati kawasan itu. “Karst Lembah Baliem menjadi areal berburu Suku Dani, mengingat tradisi berburu untuk pemenuhan kebutuhan protein,” ujar dia kepada Tempo, Senin malam, 6 Juli 2020.

    Rencana pembangunan pabrik semen itu mencuat dalam kegiatan Panja bersama Dinas PU Provinsi Papua dan disetujui oleh Komisi IV DPRD Papua dua minggu lalu, yang dianggap memiliki potensi penghasil semen untuk kebutuhan di Papua. Pabrik tersebut juga dianggap bisa membantu mengangkat pendapatan asli daerah setempat, termasuk pemberdayaan tenaga kerja lokal.

    Karst Lembah Baliem mempunyai arti penting bagi Suku Dani. Pengertian daerah karst di wilayah itu dalam arti yang luas, yaitu mengacu pada wilayah teritorial tradisional Suku Dani, di mana mereka tinggal, bercocok tanam, melakukan tradisi berburu dan melakukan aktivitas budaya.

    Menurut arkeolog lulusan Universitas Udayana Bali itu, setiap konversi tanah adat untuk keperluan pembangunan pabrik semen akan mempunyai implikasi yang serius pada masa mendatang. Dari aspek budaya, daerah karst Lembah Baliem berkaitan dengan identitas dan akar budaya masyarakat setempat.

    Selain itu, Hari berujar, dalam cerita rakyat yang dipercaya oleh suku-suku di pegunungan Papua terutama Suku Amungme di pegunungan Mimika serta Suku Mee di pegunungan tengah Papua bagian barat, nenek moyang mereka berasal dari timur, atau pada mulanya menempati gua-gua di Lembah Baliem.

    “Karst Lembah Baliem memiliki gua prasejarah dengan tinggalan lukisan pada dinding gua yang dibuat oleh manusia prasejarah. Lukisan pada dinding gua ini terdapat di Situs Gua Kontilola,” kata Hari.

    Sementara, pabrik semen membutuhkan batu gamping atau karst sebagai bahan dasar semen. Pembangunan pabrik semen itu akan merusak ekologi dan situs arkeologi terutama gua-gua prasejarah. Selain itu, gua-gua prasejarah di Lembah Baliem ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

    “Pembongkaran karst untuk bahan semen, sama saja dengan merusak tempat tinggal nenek moyang Suku Dani,” tutur dia.

    Selain itu, Hari menambahkan, pabrik semen menyumbang sekitar delapan persen emisi karbon dioksida di dunia. Lembah Baliem dikenal sangat dingin, tapi sejak terjadi migrasi penduduk dari kampung ke Kota Wamena dan maraknya pembangunan gedung dan perumahan berupa rumah beratap seng, menjadikan Kota Wamena tidak sedingin dulu lagi.

    “Apalagi dengan pembangunan pabrik semen ini, tentu akan meningkatkan suhu udara dan polusi udara di Wamena,” ujar Hari.

    Karst Baliem merupakan sumber air jernih di Lembah Baliem. Karst ini mampu menyimpan air tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, yaitu dengan mengeluarkan air secara perlahan-lahan ke sistem sungai bawah tanah.

    Sungai bawah tanah di wilayah itu juga airnya bermuara di Sungai Baliem, sehingga harus dilindungi  karena menjadi solusi kekeringan pada musim kemarau. Selain itu karst Baliem menjadi habitat flora dan fauna endemik pegunungan di Papua.

    "Beberapa gua di karst Lembah Baliem, di dalamnya terdapat kolam air jernih yang menjadi habitat udang endemik, yaitu udang bertubuh transparan yang hidup di tempat gelap,” ujar Hari.

    Hari menyebutkan, potensi karst yang ada di Distrik Kurulu, Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, sangat baik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi investor pabrik semen. Namun, ada potensi bernilai tinggi lainnya dari Lembah Baliem daripada merusak karst.

    Menurutnya, Lembah Baliem juga merupakan komoditas penghasil kopi Arabika, yang dipasarkan dan dikenal dengan Kopi Wamena. Kopi ini bernilai tinggi dan berkualitas ekspor, sehingga jika dikembangkan secara serius akan menjadi produk unggulan Lembah Baliem dan akan mendatangkan keuntungan.

    “Selain itu, komoditas lainnya adalah pariwisata. Pariwisata Lembah Baliem sudah dikenal di dunia, salah satunya ada acara Festival Budaya Lembah Baliem, situs gua prasejarah, mumi dan wisata trekking,” tutur Hari menambahkan.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.