Erupsi Embusan, Status Gunung Raung Naik Jadi Waspada

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Raung terlihat mengeluarkan abu vulkanik ketika kapal penyebrangan yang mengangkut pemudik  di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, 12 Juli 2015. Pemudik lebih banyak memilih mudik dengan jalur darat laut dikarenakan Gunung Raung terus bererupsi. TEMPO/Johannes P. Christo

    Gunung Raung terlihat mengeluarkan abu vulkanik ketika kapal penyebrangan yang mengangkut pemudik di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, 12 Juli 2015. Pemudik lebih banyak memilih mudik dengan jalur darat laut dikarenakan Gunung Raung terus bererupsi. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Bandung - Status aktivitas Gunung Raung di Jawa Timur dinaikkan dari Normal atau Level I menjadi Waspada atau Level II karena erupsi. Status gunung yang secara administratif masuk wilayah Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember itu dinaikkan per hari ini Jumat 17 Juli 2020, Pukul 14 WIB.

    “Aktivitas vulkanik Gunung Raung baik secara data pengamatan visual dan kegempaan, mulai menunjukkan peningkatan,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kasbani, Jumat.

    Kasbani menjelaskan, PVMBG memutuskan menaikkan status Gunung Raung menjadi Waspada agar masyarakat, pengunjung, wisatawan, tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah atau puncak. Dari hasil pengamatan dan analisa terhadap Gunung Raung pada Kamis terpantau kolom embusan gas atau abu mulai mengalami perubahan warna.

    “Warna kolom embusan mengindikasikan adanya material abu yang terbawa ke permukaan,” kata Kasbani.

    PVMBG mencatat terjadi kenaikan gempa embusan yang diikuti kemunculan gempa vulkanik lainnya, diantaranya gempa tremor dan gempa letusan. “Sehingga mengindikasikan adanya suplai magma dari kedalaman di bawah kawah puncak Gunung Raung,” kata Kasbani lagi.

    Kasbani mengatakan, sejumlah potensi bahaya mesti diwaspadai. Diantaranya sebaran material dari embusan abu itu yang diperkirakan sebarannya masih berada di sekitar kawah gunung. “Namun sebaran abu dapat terbawa ke daerah yang lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin,” kata Kasbani.

    Pemantauan visual Gunung Raung mendapati terjadi perubahan pada asap kawah utama Gunung Raung. Pada tanggal 16 Juli 2020 pukul 07.52 WIB terlihat asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi dengan ketinggian sekitar 50 meter dari puncak.

    Siangnya, pukul 10.52 WIB asap kawah teramati makin tinggi, menjadi 100 meter dari puncak dan warnanya berubah menjadi putih kecoklatan. Pukul 13.56 WIB warna kolom hembusan berubah menjadi warna putih kelabu, dengan ketinggian 100 meter dari puncak.

    PVMBG mencatat total terjadi embusan atau erupsi sebanyak 60 kali sejak pukul 10.52 WIB itu berupa kolom abu kelabu dan kemerahan. Dengan ketinggian bervariasi antara 50 sampai 200 meter dari puncak.

    Erupsi terpantau masih terjadi  pada 17 Juli 2020 mulai pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB. “Erupsi masih terjadi sebanyak 26 kali, menghasilkan kolom abu berwarna cokelat dengan intensitas tipis hingga sedang, dan tinggi 50-200 meter di atas puncak atau kawah,” kata Kasbani.

    PVMBG juga mencatat terjadi perubahan karakteristik kegempaan di Gunung Raung. Sepanjang Januari hingga 16 Juli 2020 didominasi gempa tektonik jauh, tektonik lokal, serta sekali gempa terasa pada 19 Maret 2020.

    Beberapa gempa embusan mulai terpantau sejak 13 Juli 2020. Jumlahnya meningkat mulai 16 Juli 2020 pukul 10.52 WIB, di ikuti tremor non-harmonik dan gempa letusan. Pada 17 Juli 2020 hingga pukul 06.00 WIB terpantau 26 kali gempa letusan dan 20 tetaran tremor non-harmonik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.