Covid-19 di USU: Rektor Sembuh, Kampus Lockdown

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Medan - Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Runtung Sitepu, dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah dua kali tes usap menunjukkan hasil negatif. Sang profesor telah selama dua pekan terakhir menjalani isolasi mandiri sejak dia dinyatakan positif terinfeksi virus corona pada 10 Juli 2020.

    "Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, hari ini diketahui negatif Covid-19 setelah dilakukan tes usap yang kedua pada Jumat ini," katanya melalui pesan WhatsApp dan pernyataan di Warta USU di Medan, Jumat malam 24 Juli 2020.

    Sebelumnya, Direktur Utama Rumah Sakit USU, Syah Mirsya Warli, memberitahukan terkait pelacakan terhadap kontak dengan salah seorang anggota Majelis Wali Amanat (MWA) dan Wakil Rektor I USU yang terkonfirmasi positif Covid-19. Menurutnya, hasil uji usap Rektor USU juga positif dengan kondisi baik dan tidak ada gejala.

    Saat itu juga, Syah Mirsya mengimbau semua yang pernah kontak erat dengan sang rektor agar melakukan uji usap di RS USU atau tempat uji usap RT PCR lainnya di Sumatera Utara. Sementara sang rektor langsung menjalani isolasi.

    Dalam perkembangannya, Runtung Sitepu pada Jumat juga telah mengeluarkan surat edara yang isinya menutup (lockdown) Kampus Universitas Sumatera Utara di Medan dari seluruh kegiatan untuk sementara. Alasannya, semakin banyak dosen di perguruan tinggi negeri itu yang dinyatakan positif Covid-19.

    Bahkan telah ada dosen yang meninggal karena kasus tersebut. Lockdown pun ditetapkan demi keselamatan bersama. Berdasarkan surat edaran, penutupan aktivitas di USU terhitung sejak hari Senin, 27 Juli sampai dengan Minggu, 2 Agustus 2020.

    "Selama masa lockdown di USU tersebut, diharapkan semua Pimpinan, Dosen dan Tenaga Kependidikan bekerja di rumah (WFH) dan daftar kehadiran dilakukan secara online melalui sistem informasi presensi," bunyi sebagian isi surat edaran itu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.