Amerika: Rusia Dua Kali Tes Senjata Anti-Satelit di Antariksa

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satelit Rusia. sciencealert.com

    Satelit Rusia. sciencealert.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Komando Antariksa Amerika Serikat mengumumkan pada Kamis 23 Juli 2020 kalau mereka memiliki bukti Rusia telah menguji senjata anti-satelit di luar angkasa. Tidak hanya sekali, Amerika Serikat menyodorkan dua bukti peristiwa sekaligus yang dilukiskan sebagai aksi-aksi hipokrit.

    "Pada 15 Juli, Rusia menginjeksikan sebuah obyek baru dari satelit Cosmos 2543 ke orbit dan melakukan tes tak merusak dari sebuah senjata anti-satelit," bunyi pernyataan U.S. Space Command (USSC).

    Obyek itu belakangan diketahui USSC terdaftar dalam Satellite Catalog Number 45915 di space-track.org. Rusia melepasnya dekat satelit Rusia lainnya, sebuah manuver yang menurut Departemen Luar Negeri AS mirip dengan aksi satelit Rusia sebelumnya.

    "Satelit-satelit ini mempertontonkan karakteristik senjata berbasis antariksa," kata Departemen Luar Negeri AS sambil menyebut perilaku Rusia itu, "Hipokrit dan mencemaskan." Alasannya, Rusia dinilai tidak konsisten dengan misi yang dinyatakan sebelumnya' sebagai sebuah satelit inspektor.

    Aksi sebelumnya itu tepatnya pada Februari lalu. Saat itu sua satelit Rusia (COSMOS 2542 dan COSMOS 2543) mengikuti satelit mata-mata Amerika, sebuah tindakan yang disebut U.S. Space Force sebagai tidak biasa dan mengganggu.

    "Ini adalah bukti lebih jauh dari upaya terus menerus dari Rusia untuk mengembangkan dan menguji sistem (senjata anti-satelit) berbasis antariksa," kata Jenderal John W. Raymond, Komandan U.S. Space dan Ketua Operasi Antariksa di U.S. Space Force .

    U.S. Space Force memandang aksi-aksi dari Rusia itu sebagai ancaman dan, menyusul peluncuran rudal anti-satelit April lalu, Space Force menyimpulkan satelit-satelit pengintil itu telah memamerkan karakteristik senjata antariksa.

    "Ini bahkan menekankan sikap hipokrit Rusia terhadap pengendalian persenjataan luar angkasa yang menurut Moskow untuk membatasi kemampuan AS namun jelas-jelas Moskow tak berniat menghentikan programnya sendiri, baik itu kemampuan persenjataan anti-satelit berbasis di darat ataupun di orbit," kata Christopher Ford, Asisten Menteri Luar Negeri AS.

    SPACE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaksa Pinangki Ditahan, Diduga Terima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra

    Kejaksaan Agung menetapkan Jaksa Pinangki sebagai tersangka dalam perkara dugaan gratifikasi. Ia dikabarkan menerima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra.