Pesawat N219 Jalani Uji Terbang Akhir Sebelum Produksi Massal

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan karyawan menyambut pesawat N219 usai terbang perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Rabu, 16 Agustus 2017. TEMPO/Prima Mulia

    Ratusan karyawan menyambut pesawat N219 usai terbang perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Rabu, 16 Agustus 2017. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN berharap pesawat N219 lolos uji sertifikasi pada akhir tahun ini juga untuk selanjutnya memasuki tahap produksi massal tahun depan. Pesawat ringan yang dikembangkannya bersama PT Dirgantara Indonesia itu kini menunggu sertifikasi tipe dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan.

    "N219 sampai saat ini sedang dilakukan uji terbang akhir dengan misi sangat 'critical'," kata Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Rika Andiarti, dalam gelar wicara virtual 'Iptek Pengembangan dan Antariksa Bagi Indonesia Maju' yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Antariksa, Kamis 6 Agustus 2020.

    Dalam acara itu, Rika mengatakan kalau tingkat komponen dalam negeri yang digunakan pada pembuatan pesawat itu sudah mencapai 40 persen. Ke depan akan ditingkatkan menjadi 60 persen, dan diupayakan semakin meningkat bersamaan dengan pengembangkan pesawat N219 versi amfibi.

    "Untuk mendukung program pemerintah untuk logistik, pariwisata, dan transportasi di pulau-pulau kecil, daerah danau, dan daerah perairan," katanya seperti dikutip dari ANTARA.

    Dihubungi terpisah, Kepala LAPAN Thomas Djamaludin menerangkan kalau pesawat N219 sekarang, yang sudah diambang produksi massal, dirancang untuk mengisi kebutuhan konektivitas daerah-daerah terpencil dengan kondisi medan berbukit-bukit dan landasan relatif pendek. Sertifikasi untuk pesawat dengan fixed tricycle landing gear ini, kata dia, awalnya ditargetkan dikantongi 2019.

    "Namun tertunda," katanya melalui aplikasi percakapan WhatsApp, Jumat pagi 7 Agustus 2020.

    Presiden Joko Widodo menerbangkan pesawat kertas bersama para pelajar SD saat prosesi pemberian nama pesawat N219 di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. Pesawat ini melakukan uji terbang perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung pada Rabu (16/8) lalu. TEMPO/Subekti.

    Menurut Thomas, pesawat ringan yang perancangan dan ujinya melibatkan perekayasa dan peneliti LAPAN itu bukan hanya untuk transportasi penumpang, tetapi juga logistik. "Jadi pintu pesawat dibuat lebar," katanya sambil menambahkan, proses produksi nanti akan dikerjakan PT DI.

    Desain pintu lebar ini juga diterangkan dalam situs web PT DI tentang produk N219 Nurtanio. Dituliskan di sana kalau N219 adalah jenis pesawat multifungsi berkapasitas 19 penumpang dengan kabin terluas di kelasnya. Pintu lebar untuk memudahkannya berubah-ubah konfigurasi di antara fungsi: angkut penumpang, evakuasi medis, angkut kargo, angkut personel militer, serta patroli dan SAR.

    "Pesawat N219 Nurtanio didesain untuk memberi keuntungan bagi operatornya dari aspek teknis maupun ekonomis," tulis PT DI.

    Beberapa aspek performa dari pesawat twin engine berkekuatan 850 SHP di setiap mesinnya itu adalah kecepatan jelajah maksimum 210 knot dan daya jelajah dengan bahan bakar penuh 828 mil. Lainnya adalah kapasitas muatan maksimal 2.313 kilogram, bobot maksimal untuk lepas landas 7.030 kilogram, dan kebutuhan landasan 509 meter. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ciri-ciri Berbohong, Perhatikan Bahasa Tubuh Bukan Kata-katanya

    Bahasa tubuh bisa mencerminkan apakah orang tersebut sedang berbohong atau tidak. Berikut ciri-cirinya