BAPETEN Perpanjang Kerja Sama Pengawasan Nuklir dengan UI

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Proteksi Radiasi (PPR) dari Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) melakukan penyisiran sumber radioaktif yang tercecer di lokasi kecelakaan mobil pengangkut bahan radioaktif saat geladi lapang penanggulangan Kedaruratan Nuklir atau Radiologi di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, 6 Desember 2018. (Foto : ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp/am).

    Petugas Proteksi Radiasi (PPR) dari Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) melakukan penyisiran sumber radioaktif yang tercecer di lokasi kecelakaan mobil pengangkut bahan radioaktif saat geladi lapang penanggulangan Kedaruratan Nuklir atau Radiologi di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, 6 Desember 2018. (Foto : ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp/am).

    TEMPO.CO, Jakarta -Universitas Indonesia (UI)dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) memperpanjang kerja sama meningkatkan pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia. Acara penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama (NKB) berlangsung secara daring dari Gedung Rektorat UI Kampus Depok dan Auditorium Gedung BAPETEN di Jakarta, pada Rabu, 12 Agustus 2020.

    Penandatanganan dilakukan Kepala BAPETEN Jazi Eko Istiyanto dan Rektor UI Ari Kuncoro. Keduanya sepaham bahwa kerja sama itu bertujuan meningkatkan keselamatan, keamanan, dan ketenteraman pekerja dan masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup. Kerja sama juga untuk pengembangan sumber daya manusia dengan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

    Rektor UI, Ari Kuncoro, mengungkapkan kalau selama ini BAPETEN telah menjalin kerja sama khususnya dengan bidang Fisika Medis Departemen Fisika FMIPA UI. Mereka di antaranya menggelar pelatihan dan pengukuran dosis sinar-X bidang radiologi. Selain itu, sebagai implementasi kerjasama pentahelix, UI dan BAPETEN juga menggandeng International Atomic Energy Agency (IAEA) dan industri alat kesehatan.

    Baca juga:
    Pemeriksaan Badan: Dua Warga Batan Indah Terpapar Radioaktif

    "Akibat perkembangan yang pesat tersebut, UI juga akan membuka program studi Fisika Medis Departemen Fisika FMIPA UI," ujar Ari melalui siaran pers, Rabu, 12 Agustus 2020.

    Kepala BAPETEN, Jazi Eko Istiyanto, menilai kerja sama itu telah berjalan dengan efektif. BAPETEN juga diakuinya memerlukan keterlibatan dan masukan dari akademisi dan tenaga ahli yang memiliki kompetensi di berbagai aspek yang penting dalam rangka membantu meningkatkan pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir.

    "Dan UI tidak diragukan lagi, memiliki semua kepakaran dan kompetensi tersebut,” ujar Jazi.

    Bentuk konkret kerja sama yang sudah dilakukan selama lima tahun terakhir (2015-2019) diantaranya adalah Kajian terhadap Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 yang diselenggarakan pada tanggal 24 April 2015 - 4 Desember 2015 (Fakultas Hukum UI) dan Kajian Pembatas Dosis (Dose Constraint) untuk Petugas Bidang Kesehatan yang diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 2015 - 30 November 2015 (Fakultas MIPA UI).

    Baca juga:
    UI Ungguli ITB, UGM, IPB di Daftar 550 Universitas Terbaik Asia

    Selain itu juga Pelaksanaan Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X di Wilayah Indonesia Timur dan beberapa wilayah Indonesia lainnya yang diselenggarakan pada antara tahun 2015 – 2019 (Fakultas MIPA UI). Lalu Reviu dan Penilaian Laporan Pelaksanaan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak (SMET) Reaktor Daya Nonkomersial (RDNK) yang diselenggarakan pada tanggal 23 Februari 2016 - 31 Agustus 2016 (Pengkajian Energi Fakultas Teknik UI).

    Sebagai bentuk implementasi Nota Kesepakatan Bersama, dalam waktu dekat BAPETEN dan FMIPA UI akan menyelenggarakan Seminar Daring Keselamatan Nuklir (SKN) yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 dengan mengusung tema “Innovations to Support Nuclear Safety and Security for Advanced Human Resources and Excellent Indonesia.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    8 Tips Aman Mempercepat Datang Bulan

    Datang bulan yang terjadi bagi sebagian wanita dapat mengganggu aktivitas mereka. Tak sedikit yang menempuh sejumlah cara untuk mempercepat haid.