Facebook Digugat Lagi Soal Data Biometrik Foto, Kali Ini Pengguna Instagram

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi logo Instagram, Facebook, Whatsapp

    Ilustrasi logo Instagram, Facebook, Whatsapp

    TEMPO.CO, Jakarta - Facebook kembali digugat. Kali ini, raksasa teknologi itu dituduh memanen data biometrik pengguna aplikasi berbagi foto miliknya, Instagram, secara ilegal. Facebook diduga mengumpulkan, menyimpan, dan mengambil untung dari data biometrik lebih dari 100 juta pengguna tanpa persetujuan.

    Gugatan didaftarkan di pengadilan negara bagian di Redwood City, California pada Senin, 10 Agustus 2020. Penggugat adalah Kelly Whalen dari Illinois yang mengatakan bahwa dia telah menggunakan Instagram secara teratur sejak 2011.

    Seperti dikutip dari Fortune, Kamis 13 Agustus 2020, Whalen menyatakan bahwa praktik aplikasi berbagi foto itu melanggar undang-undang privasi negara bagian yang melarang pengumpulan data biometrik yang tidak sah. Sementara, media sosial besutan Mark Zuckerberg itu baru mulai memberi tahu pengguna Instagram bahwa mereka sedang mengumpulkan data biometrik pada awal tahun ini.

    Berdasarkan undang-undang privasi yang dirujuk Whalen, perusahaan dapat dipaksa untuk membayar US$ 1 miliar (setara Rp 14,8 triliun) per pelanggaran jenis itu atau US$ 5 miliar (Rp 74,2 triliun) jika ditemukan telah bertindak ceroboh atau sengaja.

    Gugatan itu didaftarkan setelah Facebook baru saja menjalin kesepakatan untuk pembayaran kompensasi US$ 650 juta (Rp 9,6 triliun) di kasus yang berbeda pada bulan lalu. Facebook menyelesaikan gugatan yang menuduhnya mengumpulkan data biometrik secara ilegal melalui alat penandaan foto yang disediakan untuk pengguna Facebook.

    Tawaran yang direvisi dari sebelumnya US$ 550 juta itu telah disetujui oleh kedua belah pihak, tapi belum disetujui oleh hakim. Jika penyelesaian berhasil, setiap pengguna yang terpengaruh dapat dibayar US$ 200-400.

    Baca juga:
    WhatsApp Gugat Perusahaan Software Israel, Ini Masalahnya

    Stephanie Otway, juru bicara perusahaan Facebook, menyatakan gugatan terbaru dari Whalen tidak berdasar. Dalam email kepada Fortune, dia menegaskan, "Instagram tidak menggunakan teknologi pengenalan wajah.”

    Otway menuturkan kalaupun akan dikenalkan teknologi tersebut di Instagram dipastikannya akan memberi tahu kepada pengguna terlebih dahulu, "Dan Anda akan memiliki kendali atas apakah kami menggunakan teknologi ini untuk Anda."

    FORTUNE | IMORE | BLOOMBERG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Tetapkan Aturan Baru Perihal Kampanye Pilkada Serentak 2020

    Pilkada Serentak 2020 tetap dilaksanakan pada 9 September pada tahun yang sama. Untuk menghadapi Covid-19, KPU tetapkan aturan terkait kampanye.