Mahasiswa UNS Kembangkan Teknologi Produksi Garam 2 Jam

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, 31 Juli 2017. Setelah mengairi petakan tanah, air tersebut diuapkan di bawah terik matahari selama tujuh hari. Setelah air mengering dan berubah jadi kristal berwarna putih, barulah petani memanen garam untuk dijual. ANTARA FOTO

    Petani mengumpulkan garam yang baru dipanen di lahan garam Desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, 31 Juli 2017. Setelah mengairi petakan tanah, air tersebut diuapkan di bawah terik matahari selama tujuh hari. Setelah air mengering dan berubah jadi kristal berwarna putih, barulah petani memanen garam untuk dijual. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Solo - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tengah mengembangkan teknologi yang bisa mempercepat produksi garam kualitas baik. Penelitian pembuatan alat bernama Parabolic Salt Machine itu lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 Tahun 2020 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    "Berawal dari ketertarikan mengenai garam, kami berhasil membuat karya tulis berjudul 'Parabolic Salt Machine Sebagai Inovasi Teknologi Penghasil Garam Dengan Metode Pengabutan Misty Fan Berbasis Solar Concentrator dan Cakram'," kata Dji Hanafit, satu di antara tiga mahasiswa pemilik karya tulis itu, Selasa 25 Agustus 2020.

    Mereka menargetkan alat yang sedang dikembangkan tersebut dapat diaplikasikan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Daerah itu dianggap memiliki potensi menjadi penghasil garam terbesar di Indonesia.

    "Selama ini potensi penghasil garam yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal mengingat petani garam di Indonesia sebagian besar masih menggunakan cara tradisional," katanya

    Ia mengatakan walaupun selama ini sudah dilakukan suatu penelitian tentang teknologi untuk proses produksi garam, seperti penggunaan teknologi filter ullir, plastik geomembran, dan rumah prisma, ternyata belum mampu mengatasi permasalahan produksi garam di Indonesia.

    Baca juga:
    Penelusuran ITS Ditulis Institut Teknologi Surabaya yang Ramai di Medsos

    Dji menerangkan, proses pembuatan garam dengan alat yang mereka ciptakan dimulai dari proses filtrasi, selanjutnya melewati proses pemanasan air laut menggunakan solar concentrator. Kemudian partikel air akan dipecah dibantu embusan angin dari 'misty fan'.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.