Penelitian Lanjutan di Situs Kumitir Ajukan Dana Rp 10 Miliar ke Kemendikbud

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekskavasi situs di kebun tebu di Desa Kumitir, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Agustus 2020. Di situs seluas total enam hektare itu diduga terkubur candi pendharmaan atau makam satu raja dari era Kerajaan Singasari dan Majapahit. FOTO/BPCB JAWA TIMUR

    Ekskavasi situs di kebun tebu di Desa Kumitir, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Agustus 2020. Di situs seluas total enam hektare itu diduga terkubur candi pendharmaan atau makam satu raja dari era Kerajaan Singasari dan Majapahit. FOTO/BPCB JAWA TIMUR

    TEMPO.CO, Surabaya - Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan ekskavasi Situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto bakal dilanjutkan akhir tahun ini. Menurut dia, Balai mendapat suntikan dana dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur untuk melanjutkan penggalian.

    Ekskavasi Situs Kumitir yang diawali pada 4 Agustus lalu telah rampung pada 9 September kemarin. Tim peneliti yang dipimpin Wicaksono telah mengumumkan temuan awal berupa konstruksi istana dari yang semula diduga sebatas candi pendharmaan atau makam. Tapi itu diperhitungkan baru 30 persen dari situs seluas total enam hektare.

    Semula Balai Cagar Budaya menunggu anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meneruskan penggalian dan mengupas bagian lain dari situs itu pada tahun depan. “Namun kami mendapat dukungan dari Dinas dan DPRD Jawa Timur untuk meneruskan ekskavasi tahun ini. Kalau tidak ada kendala, Oktober ini kami memulai lagi,” kata Wicaksono saat dihubungi, Selasa, 15 September 2020.

    Wicaksono berujar awalnya Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur mengajukan anggaran Rp 10 miliar untuk mendanai keseluruhan eskavasi lanjutan. Biaya itu, kata dia, antara lain untuk mendeteksi titik-titik situs melalui perangkat lidar, geolistrik dan georadar. “Tapi karena ada Covid-19, anggaran yang disetujui tidak bisa banyak,” kata Wicaksono.

    Selain itu, Balai Cagar Budaya masih menghadapi kendala pembebasan lahan di sejumlah titik situs. Menurut Wicak beberapa pemilik lahan belum bersedia melepaskan lahannya untuk kepentingan ekskavasi. “Ini juga menjadi masalah soal anggaran,” kata Wicaksono.

    Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur Zakaria Kasimin mengimbuhkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur hanya mengeluarkan anggaran Rp 1 miliar untuk eskavasi tahun ini. Tapi itupun untuk di dua tempat, yaitu Situs Kumitir dan Situs Sumberbeji yang ada di Jombang. “Rinciannya, Rp 800 juta untuk Kumitir, Rp 200 juta untuk Sumberbeji,” kata Zakaria.

    Untuk Situs Kumitir, kata dia, konsentrasi penggalian bakal diarahkan ke sisi selatan. Sebab, pada eskavasi tahap pertama, batas-batas bekas bangunan yang diduga Istana Bhre Wengker dan pendarmaan Mahesa Cempaka di sisi barat, timur dan utara sudah dipetakan. “Ekskavasi tahap pertama itu baru menguak 30 persen dari situs seluas 6 hektare ini, langkah selanjutnya ke sisi selatan,” kata Zakaria.

    Pamong budaya Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud, Abikusno, berujar Kementerian berkomitmen mendanai ekskavasi Situs Kumitir tahap kedua pada tahun depan. Anggaran yang telah disediakan, kata Abikusno, sama dengan ekskavasi tahap pertama, yakni Rp 700 juta.

    Baca juga:
    Teleskop Temukan Potensi Tanda Kehidupan Alien di Venus 

    “Dengan asumsi masa ekskavasi sama dan jumlah orangnya sama,” kata Abikusno yang juga anggota Kelompok Kerja Pengamanan dan Penyelematan Benda Cagar Budaya Bawah Air.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Tetapkan Aturan Baru Perihal Kampanye Pilkada Serentak 2020

    Pilkada Serentak 2020 tetap dilaksanakan pada 9 September pada tahun yang sama. Untuk menghadapi Covid-19, KPU tetapkan aturan terkait kampanye.