Pakar WHO: Hidup Tak Akan Normal Kembali Hingga 2022 Karena Pandemi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang ilmuwan top di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan kecil kemungkinan dunia akan kembali normal hingga 2022 karena pandemi Covid-19. Menurut Swaminathan, banyak orang membayangkan bahwa pada Januari 2021 vaksin tersedia di seluruh dunia, dan semua akan kembali normal setelahnya, "tapi itu hanya sebuah fantasi, bukan begitu cara kerjanya."

    Swaminathan yang juga kepala sains WHO menunjukkan bahwa garis waktu paling realistis menempatkan peluncuran vaksin Covod-19 selama pertengahan 2021 dan imunisasi tidak akan terjadi dalam semalam. "Mengenakan masker dan jaga jarak sosial juga masih diperlukan untuk sementara waktu," ujar dia, seperti dikutip Fox News, Rabu, 16 September 2020.

    Menurutnya, WHO membutuhkan 60-70 persen populasi telah memiliki kekebalan sebelum mulai melihat penurunan dramatis penularan virus ini. "Kami juga tidak tahu berapa lama vaksin ini akan melindungi, itulah tanda tanya besar lainnya: Berapa lama kekebalan bertahan? Dan, mungkin saja Anda membutuhkan penguat," kata dia.

    Minggu ini, salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, membuat prediksi serupa. Miliarder itu membantu mendanai banyak upaya vaksin. Berbicara dengan New York Magazine, Gates mengatakan kekebalan masyarakat global tampaknya tidak mungkin kembali normal sampai 2022.

    Menurut pemilik Bill & Melinda Gates Foundation itu, distribusi vaksin akan menjadi tantangan selanjutnya jika 80 persen dari semua vaksin disetujui dan mendapatkan semua kapasitas untuk memberantas virus. "Itu memakan waktu hingga 2022. Anda berharap itu tidak melewati tahun 2022?" tutur Gates.

    Mengembangkan vaksin yang layak biasanya membutuhkan waktu satu dekade, tapi upaya untuk menghasilkan vaksin virus corona baru itu telah dipercepat ke kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. New York Times melaporkan bahwa saat ini terdapat 40 vaksin dalam uji klinis dan sembilan sudah dalam pengujian Fase 3 di seluruh dunia.

    Pada Rabu, 16 September 2020, departemen pertahanan dan lembaga federal kesehatan menguraikan rencana untuk vaksin potensial yang meliputi tersedianya secara gratis untuk semua orang Amerika. Menurut Associated Press, lembaga-lembaga sedang melihat perkiraan pada Januari untuk kemungkinan dimulainya kampanye vaksinasi.

    Sementara pada Selasa, 15 September 2020, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kembali keyakinannya bahwa vaksin dapat tiba sebelum hari pemilihan presiden, pada 3 November mendatang. Saat ini, Amerika memiliki kasus virus terbanyak di dunia, Pusat Sumber Daya Coronavirus Johns Hopkins melaporkan 6,6 juta kasus dikonfirmasi dan lebih dari 196.000 kematian.

    “Kami akan mendapatkan vaksin dalam beberapa minggu. Bisa empat minggu, bisa delapan minggu. Apakah sebelum pemilihan, bisa jadi, kami akan mulai mengirimkan vaksin segera setelah mendapatkannya," kata Trump.

    Namun, pejabat kesehatan presiden sendiri menolak agenda seperti itu, dan pembuat vaksin telah bersumpah untuk menunggu data keamanan dan efektivitasnya. Namun, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci mengatakan vaksin sebelum pemilu, secara teoritis setidaknya masih mungkin.

    FOX NEWS | SOUTH CHINA MORNING POST | NEW YORK TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Tetapkan Aturan Baru Perihal Kampanye Pilkada Serentak 2020

    Pilkada Serentak 2020 tetap dilaksanakan pada 9 September pada tahun yang sama. Untuk menghadapi Covid-19, KPU tetapkan aturan terkait kampanye.