Amerika Akan Jual Beberapa Senjata Utama Ini ke Taiwan: Rudal Hingga Drone

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • M142 HIMARS. Kredit: Wikipedia

    M142 HIMARS. Kredit: Wikipedia

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan menjual sejumlah sistem persenjataan utama pada Taiwan. Setidaknya, ada tujuh jenis persenjataan yang akan dijual, dari rudal hingga drone. 

    Melansir Reuters, pada Kamis, 17 September 2020, empat orang yang mengetahui diskusi perihal rencana penjualan tersebut mengatakan penjualan itu terkait dengan upaya peningkatan tekanan terhadap Cina.

    Menjual tujuh persenjataan sekaligus merupakan hal yang tidak biasa dilakukan AS. Sebelumnya, penjualan Militer AS pada Taiwan sangat dibatasi untuk meminimalkan ketegangan dengan Cina. Namun, hubungan AS dan Cina yang kian memanas rupanya bakal membuat penjualan itu menjadi nyata.

    Dikutip Business Times, Duta Besar de facto Taiwan untuk AS, Hsiao Bi-khim, mengatakan negaranya telah memulai negosiasi dengan pemerintahan Trump untuk memperoleh berbagai sistem persenjataan.

    AS sendiri dikatakan sudah mengidentifikasi persenjataan yang disebutkan oleh Hsiao. Adapun daftar sistem persenjataan yang dikabarkan bakal dijual AS ke Taiwan, antara lain;

    • M142 High Mobility Artilery Rocket System (HIMARS)

    M142 HIMARS. Kredit: Wikipedia

    M142 HIMARS merupakan sebuah peluncur roket yang dipasang pada truk Medium Army Tactical Vechile (MATV). Selain dirancang untuk meluncurkan seluruh varian amunisi Multiple Launch Rocket System (MLRS), peluncur ini juga mampu membawa 6 roket GMLRS sekaligus atau 1 rudal TACMS.

    Melansir Army Technology, sistem roket artileri bergerak ini membutuhkan tiga awak dalam pengoperasiannya, yaitu pengemudi, penembak, dan kepala bagian. Jumlah tersebut bisa dikurangi pada sistem peluncuran roket berbasis komputer yang hanya membutuhkan paling banyak dua awak.

    HIMARS sendiri pernah terlibat pada operasi pembebasan Irak beberapa tahun silam. Untuk mendukung pertempuran di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau, HIMARS bisa diangkut menggunakan pesawat angkut C-130.

    • Peluru kendali anti tank FGM-148 Javelin

    Rudal Javelin. Kredit: Defense News

    Javelin merupakan senjata anti-tank portabel yang bisa diluncurkan langsung oleh tentara ataupun dipasang pada kendaraan tempur.

    Senjata yang diproduksi untuk menggantikan M-47 Dragon ini sudah digunakan Amerika pada pada beragam misi tempur baik di Afghanistan maupun di Irak. Javelin bahkan sempat membuat heboh ketika Ukraina menggunakannya untuk mengimbangi militer Rusia beberapa bulan lalu.

    Melansir Popular Mechanics, Javelin memiliki dua mode serangan, mode langsung dan mode melambung. Pada mode langsung, rudal yang diluncurkan Javelin akan terbang mengarah langsung ke target. sedangkan pada mode melambung, rudal akan melambung setinggi 500 kaki dan jatuh ke target sasaran.

    Selain itu, rudal yang diluncurkan Javelin memiliki dua hulu ledak. Hulu ledak pertama akan memicu ubin lapis baja reaktif dan menetralisisrnya, sedangkan hulu ledak kedua akan menembus sabuk lapis baja utama pada tank.

    • Rudal jelajah Tomahawk

    Rudal jelajah Amerika Serikat buatan Raytheon, Tomahawk, merupakan rudal jelajah subsonik yang sangat terkenal di dunia. Selain berhulu ledak konvensional, Raytheon juga mengembangkan Tomahawk Land Attack Missile-Nuclear (TLAMN) dengan kepala nuklir W80. Tomahawk dapat meluncur hingga kecepatan 890 km/jam dan menghancurkan target sejauh 1.500 km. wikimedia.org

    Tomahawk merupakan rudal jelajah sepanjang 20 kaki yang mengangkut hulu ledak seberat seribu pon. Awalnya, rudal ini dirancang untuk peluncuran dari kendaraan darat. Seiring kebutuhan perang yang meningkat, rudal ini mulai dirancang untuk digunakan pada kapal, kapal selam, bahkan pesawat tempur.

    Rudal ini digunakan untuk menyerang target tidak bergerak seperti hangar pesawat ataupun bunker amunisi. Salah satu contohnya adalah serangan terhadap pangkalan udara Suriah pada tahun 2017 silam. Dalam serangan tersebut, AS menembakkan 59 rudal Tomahawk dengan sasaran pesawat tempur, landasan udara, dan pusat pengisian bahan bakar di pangkalan udara tersebut.

    Selama bertahun-tahun rudal ini terbukti efektif dalam beberapa permulaan konflik, seperti perang teluk, Serbia Bosnia, Afghanistan, Irak, Libya, serta Yaman. Rudal ini biasanya memang menjadi tanda dimulainya sebuah konflik.

    • Peluru kendali antikapal Harpoon

    Ilustrasi rudal Harpoon anti-kapal perang berbasis darat. Boeing/Sea Power Magazine

    Harpoon merupakan sistem rudal antikapal segala cuaca yang bisa diluncurkan dari kapal, kapal selam, peluncur darat, maupun pesawat udara. Sistem persenjataan rudal ini menggunakan mid-course dengan radar pencari untuk menyerang kapal.

    Rudal ini awalnya dikembangkan untuk seluruh armada Angkatan Laut AS. Pada tahun 1998, rudal ini dikembangkan dan membuatnya bisa digunakan pada pesawat F-16 serta serta memiliki kemampuan serangan darat.

    Versi baru dari Harpoon, Block II+ memiliki jangkauan 130 mil di laut, dapat menerima pembaruan target, serta dilengkapi navigasi GPS. Untuk hulu ledaknya, rudal ini bermuatan hulu ledak seberat seberat 300 pon.

    • Drone MQ-9B SeaGuardian

    MQ-9B Guardian. Kredit: NavalDrones

    SeaGuardian merupakan varian dari SkyGuardian yang dikhususkan pada misi pengawasan dan patrol lingkungan laut serta pesisir. SkyGuardian sendiri adalah generasi baru dari seri Predator B Remotly Piloted Aircraft (RPA). Memiliki desain yang memenuhi standar kelayakan udara NATO dan Inggris, drone ini dapat terbang di wilayah udara sipil.

    Drone ini dirancang untuk beragam misi, seperti intelijen, pengawasan dan pengintaian, patrol maritime, pengawasan perbatasan, serta bantuan bencana. Pada percobaan tahun 2017, drone ini mampu mencapai waktu penerbangan selama 48 jam.

    Drone ini membawa rangkaian sensor sistem penargetan multi-spektual (MTS-B) Raytheon untuk mendukung kemampuan pengawasan, intelijen, akuisisi target, dan pelacakan jarak jauh. Selain itu, drone ini pernah diuji coba membawa sembilan cantelan untuk membawa senjata seberat hingga 2.177kg. Adapun senjata yang bisa dipilih meliputi amunisi berpandu misusu, bom yang dipandu laser Paveway, dan rudal udara ke permukaan Brimstone 2.

    Selain itu, Amerika juga dikabarkan bakal menjual ranjau bawah laut serta perlengkapan anti-kapal selam. Namun, sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut mengenai jenis dari kedua sistem persenjataan yang akan dijual ke Taiwan tersebut.

    BTIMESONLINE | ARMY TECHNOLOGY | POPULARMECHANICS | M. AMINULLAH | EZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uang Djoko Tjandra untuk Gaya Hidup Jaksa Pinangki

    Tersangka kasus suap Jaksa Pinangki Sirna Malasari diduga menerima uang banyak untuk mengurus fatwa bebas Djoko Tjandra