200 Pasien Covid-19 di Indonesia Sudah Terima Plasma Konvalesen

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19  yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19 yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Lebih dari 200 pasien Covid-19 di Indonesia telah menerima atau menjalani terapi plasma konvalesen. Ini adalah praktik donor darah dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh yang diharapkan dapat 'menularkan' antibodinya kepada pasien yang masih kritis.

    “Sudah lebih dari 200 pasien yang menerima terapi plasma konvalesen. Kebanyakan di Pulau Jawa dimana Jakarta dan Surabaya menjadi mayoritas,” kata Kepala Bidang Pembinaan Kualitas Unit Donor Darah Pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Robby Nur Adityadia, saat dihubungi dalam rangka momentum perayaan HUT PMI ke-75, Jakarta, Jumat 18 September 2020.

    Robby yang juga seorang dokter itu menjelaskan bahwa terapi plasma konvalesen secara umum merupakan alternatif pengobatan untuk pasien Covid-19. Ia mengatakan tugas PMI dalam menyiapkan terapi plasma konvalesen tersebut merupakan tugas dari pemerintah yang khususnya dijalankan di bidang pelayanan darah.

    Dalam pelaksanaannya, kata dia, PMI terus berupaya dalam menggaet para pendonor plasma--bagian dari darah yang telah disaring dari sel-selnya. Sasarannya adalah orang yang baru sembuh dari Covid-19. “Sekarang kami terus mencoba ini agar mereka mau menyumbangkannya karena sudah mengandung antibodi,” ujarnya.

    Namun, di sisi lain PMI mengalami kesulitan dalam mengakses data. Sebab, data pasien yang sudah sembuh berada di rumah sakit. Sehingga, Robby mengungkapkan, terkadang PMI berupaya menghubungi rumah sakit untuk membuka akses data tersebut.

    Hal tersebut dilakukan agar PMI kemudian dapat membujuk calon donor agar mau menyumbangkan plasma darahnya. Apalagi ia mengakui bahwa pasien Covid-19 yang telah sembuh terkadang masih memiliki perasaan malu dan takut.

    Ini seperti yang juga disampaikan Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat, Linda Lukitari Waseso. Dia menyatakan animo masyarakat untuk melakukan donor plasma hingga kini masih rendah karenakan trauma dari penyintas akibat sakit yang mereka derita.

    Sebagai contoh, adanya stigma negatif yang masih kerap dialamatkan kepada penderita sehingga mereka dijauhi oleh masyarakat di lingkungan sekitar. Hingga kini, Linda mengungkapkan, secara nasional PMI baru mencatat sekitar 250 orang dari berbagai daerah yang telah melakukan donor plasma.

    Terkait hal itu, PMI mencoba untuk secara konsisten mengampanyekan bahwa donor plasma darah merupakan bagian dari berbagi manfaat oleh para penyintas Covid-19. Menurut Robby, seorang penyintas Covid-19 bisa menolong tiga pasien dengan menyumbangkan 400 mililiter plasma darahnya.

    Baca juga:
    Dari Covid-19, Ilmuwan Dunia Cari Cara Baru Obati Kanker

    “Istilahnya ada kepuasan tersendiri secara psikologis kalau mereka yang telah sembuh mau menyumbangkan darahnya untuk kesembuhan orang lain,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips untuk Membersihkan Rumah Saat COVID-19

    Kebersihan rumah menjadi salah satu hal yang penting saat pandemi COVID-19.