Rakyat Voting Memilih Pesawat Tempur dan Cerita Netralitas Swiss

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tempur Swiss, F/A 18, melepaskan <i>flare</i> saat melakukan demonstrasi penerbangan di atas Axalp di Bernese Oberland, Swiss, 10 Oktober 2018. REUTERS/Arnd Wiegmann

    Pesawat tempur Swiss, F/A 18, melepaskan flare saat melakukan demonstrasi penerbangan di atas Axalp di Bernese Oberland, Swiss, 10 Oktober 2018. REUTERS/Arnd Wiegmann

    TEMPO.CO, Jakarta - Rakyat Swiss akan memberikan suaranya dalam sebuah voting nasional 27 September 2020. Mereka akan memilih jenis pesawat tempur baru pengganti armada 34 F/A-18C satu kursi dan F/A-18D yang ada saat ini yang sudah berusia lebih dari 20 tahun. Voting dilakukan di antara pilihan jenis Airbus Eurofighter, French Rafale, F/A-18F Super Hornet, dan F-35A Joint Strike Fighter.

    Pemerintah Swiss menganggap armada yang ada sudah menua dan sudah harus diganti sepenuhnya pada 2030. Militer negara itu telah menganggarkan pembaruan jajaran pesawat tempurnya itu hingga senilai US$ 6,6 miliar.

    Uniknya, voting tak direspons dengan antusias oleh sebagian rakyat Swiss. Ini seperti yang disampaikan seorang anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat, Priska Seiler Graf, yang menyatakan Swiss tak membutuhkan pesawat tempur.

    "Memangnya siapa musuh kita? Siapa yang akan menyerang negara kecil dan netral ini--yang dikelilingi oleh (kekuatan) negara NATO? Ini benar-benar absurd," katanya.
    Kalaupun ada serangan dari negara seperti Rusia, Seiler menunjuk Swiss dikelilingi negara bersahabat seperti Jerman, Prancis, Italia, dan Austria.

    Seluruhnya adalah negara anggota NATO yang berbeda poros dengan Rusia, dan disebutnya, "Masing-masing memiliki armada jet tempur."

    Swiss memang tidak pernah terlibat perang di manapun dengan siapa pun selama ratusan tahun. Termasuk saat Perang Dunia I dan II. Sedang pada era Perang Dingin, negara ini memilih tak berpihak. 'Perang' melawan Rusia dipilih lewat cara lain seperti saat memberi tempat perlindungan bagi 10 ribu pengungsi Hongaria dan melarang atlet Rusia ikut kompetisi ski di dalam negerinya.

    Pesawat tempur F-18 milik Angkatan Udara Swiss bermanuver di langit Turki saat acara NATO Tiger Meet 2015 di Pangkalan Komando di Konya, 12 Mei 2015. Orhan Akkanat/Anadolu Agency/Getty Images

    Perang baku tembak terakhir yang dilakoninya adalah 500 tahun lalu melawan Prancis, ketika teknologi pesawat tempur belum dikenal. Dalam pertempuran tersebut, Swiss mengalami kekalahan. Dua ratus tahun lalu, Swiss lalu menahbiskan diri sebagai negara netral dalam Perjanjian Paris, namun baru pada 1920 mendapat pengakuan dari Persatuan Bangsa-bangsa (PBB).

    Sejak itu militer dibangun di Swiss lebih untuk melindungi netralitas tersebut. Ini didukung kondisi geografisnya yang berupa Pegunungan Alpen. Pegunungan itu plus kekuatan udara yang kecil namun kuat dianggap cukup sebagai benteng. Dalam perang dunia lalu, misalnya, Swiss adalah satu-satunya tetangga yang tak ditaklukkan Nazi Jerman pada masanya.

    Anggota militer Swiss atau Patrouille Suisse membentuk formasi menggunakan pesawat tempur Northrop F-5E Tiger II saat melakukan demonstrasi penerbangan di atas Axalp di Bernese Oberland, Swiss, 10 Oktober 2018. REUTERS/Arnd Wiegmann

    Tapi Seiler hanya mewakili sebagian rakyat Swiss. Sebagian lainnya terwakili oleh sikap anggota parlemen dari sayap kanan Partai Rakyat Swiss yang juga mantan pilot angkatan udara, Thomas Hurter. Dia mengatakan Swiss harus bisa melindungi wilayahnya tanpa bergantung pada negara lain.

    ”Jika tidak mengganti pesawat tempur tua, kita tidak akan memiliki angkatan udara, tidak ada perlindungan lagi, dan itu artinya kita tidak memenuhi konstitusi kita,” ujar Hurter.

    MUHAMMAD AMINULLAH | ZW | POPULAR MECHANICS | REUTERS | TIME


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.