Arkeolog Temukan Ukiran Motif Putri Duyung Suku Sentani, Maknanya...

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ukiran motif putri duyung di tiang rumah obhee atau rumah adat Suku Sentani di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Kredit: Balai Arkeologi Papua

    Ukiran motif putri duyung di tiang rumah obhee atau rumah adat Suku Sentani di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Kredit: Balai Arkeologi Papua

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Balai Arkeologi Papua di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Hari Suroyo, berhasil menemukan ukiran motif putri duyung pada tiang rumah obhee atau rumah adat Suku Sentani.

    Menurut arkeolog itu, putri duyung identik dengan budaya masyarakat pantai, yang membuktikan kehidupan masyarakat Danau Sentani tidak bisa dilepaskan dari laut.

    Motif putri duyung ini diukirkan pada tiang rumah adat, berwarna hitam dan putih, yang digambarkan sebagai perempuan cantik berambut tergerai, dengan bagian bawah berupa ikan berekor. Putri duyung dikenal dalam cerita rakyat digambarkan hidup di lautan, yang secara ilmiah duyung disebut dugong.

    "Dugong bukanlah sejenis ikan, tapi tergolong dalam hewan mamalia laut pemakan tumbuhan lamun yang banyak ditemukan di teluk-teluk perairan Pasifik selatan," ujar Hari dalam keterangan tertulis, Senin, 28 September 2020.

    Sementara menurut Daud Wally, tokoh masyarakat Kampung Donday, cerita rakyat yang dipercaya oleh  masyarakat Sentani bagian barat, pada masa lalu leluhur masyarakat Sentani ada yang berasal dari wilayah matahari terbit atau dari Pasifik.

    "Ukiran putri duyung berfungsi sebagai pengingat bahwa leluhur masyarakat Sentani berasal dari Pasifik di sebelah timur Sentani," kata Daud menambahkan. "Saat ini putri duyung telah menjadi lambang marga di Danau Sentani bagian barat."

    Selain motif putri duyung, Hari kembali menjelaskan, penelitian di obhee Kampung Dondai juga menemukan ukiran ikan hiu gergaji di tiang rumah. Pada masa lalu, sebelum kehadiran manusia, Danau Sentani adalah laut yang menjadi habitat fauna laut termasuk ikan hiu gergaji.

    Menurut arkeolog lulusan Universitas Udayana ini, proses geologi membuat Laut Sentani menjadi sebuah danau air tawar. Ikan hiu gergaji kemudian beradaptasi dengan lingkungan baru, yang terakhir ditangkap di Danau Sentani pada tahun 1970-an.

    Ikan hiu gergaji menjadi sumber inspirasi seni oleh manusia prasejarah hingga seni Sentani masa kini. Motif ikan hiu gergaji digoreskan pada bongkahan batu Situs Megalitik Tutari. "Motif ikan hiu juga digoreskan pada tiang rumah obhee, serta juga digambarkan dalam lukisan kulit kayu Asei," tutur Hari.

    Masyarakat Danau Sentani tidak bisa dilepaskan dari laut juga dibuktikan dengan temuan arkeologi berupa cangkang moluska laut Verenidae dan Arcidae di situs prasejarah Yomokho, Kampung Dondai. "Keberadaan cangkang moluska laut membuktikan bahwa manusia prasejarah yang menghuni Situs Yomokho telah melakukan kontak dengan masyarakat pesisir atau dalam beraktivitas mereka hingga pesisir," kata pria kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta, 39 tahun lalu itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips untuk Membersihkan Rumah Saat COVID-19

    Kebersihan rumah menjadi salah satu hal yang penting saat pandemi COVID-19.