Bahaya Penularan Covid-19 Lewat Stetoskop, RSUD Malang Kembangkan Inoscope

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Percobaan penggunaan stetoskop digital, Inoscope, yang dikembangkan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar Malang. Stetoskop ini ditujukan untuk meminimalkan kontak petugas medis dengan pasien Covid-19 dan transmisi infeksi virusnya. (ANTARA/HO-Humas RSUD Saiful Anwar Malang/VFT)

    Percobaan penggunaan stetoskop digital, Inoscope, yang dikembangkan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar Malang. Stetoskop ini ditujukan untuk meminimalkan kontak petugas medis dengan pasien Covid-19 dan transmisi infeksi virusnya. (ANTARA/HO-Humas RSUD Saiful Anwar Malang/VFT)

    TEMPO.CO, Malang - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar Malang mengembangkan stetoskop digital yang diberi nama Inoscope. Inovasi ini lahir dari kesulitan para petugas medis menggunakan stetoskop saat harus mengenakan alat pelindung diri level 4 di Instalasi Covid-19 dan Infeksius Terpadu (INCOVIT).

    Penggunaan APD menutupi seluruh kepala, dan tubuh. Sehingga, apabila hendak melakukan pemeriksaan dengan stetoskop, harus menempelkan eartips ke telinga, yang artinya membuka penutup kepala. 

    "Membuka penutup kepala berarti memiliki risiko tinggi terpapar virus corona akibat adanya droplet, atau mikrodroplet, yang tersembur dari pasien ke media stetoskop yang digunakan," kata Direktur RSUD Saiful Anwar Malang, Kohar Hari Santoso, Kamis 1 Oktober 2020.

    Menurut Kohar, dengan adanya inovasi Inoscope tersebut, diharapkan bisa membantu para tenaga medis untuk meminimalkan tertular Covid-19 saat melakukan pemeriksaan pasien. Cara kerjanya melibatkan aplikasi pada smartphone untuk membaca data suara denyut jantung dan nafas pasien hasil tangkapan mikrophone.

    Selain itu, Inoscope memiliki sampling suara yang tinggi dengan built-in filter untuk memperjelas yang direkam suara. Tapi, saat ini, inovasi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan harus melalui proses validasi sebelum dipergunakan secara resmi.

    Ketua Tim Pengembangan dan Validasi Inoscope, Susanthy Djajalaksana, menambahkan pengembangan alat itu melibatkan dokter spesialis dari SMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSUD Saiful Anwar serta tim pakar informatika medis yang diketuai Wahyu Teja Kusuma.

    Baca juga:
    Nihil Dokter Korban Covid-19, Begini RSHS Lindungi Petugas Medisnya

    “Diharapkan dengan penggunaan alat ini dapat mengurangi transmisi dan kontak sehingga mendapatkan hasil pemeriksaan yang valid tanpa perlu berlama-lama kontak dengan pasien Covid-19," kata Susanthy.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.