Sudah 130 Dokter Jadi Korban Covid-19, IDI: Jangan Remehkan Pandemi

Reporter

Editor

Erwin Prima

Dokter Milla salah satu Dokter anak di RSIA Tambak menggunakan APD bertema kartun Toys Story memeriksa pasien di RSIA Tambak, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2020. Dokter menggunakan APD Tingkat II lengkap bertema khusus kartun tersebut saat memeriksa pasien anak, selain bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada anak-anak yang menjalani pemeriksaan juga guna mengantisipasi penularan COVID-19. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melaporkan bahwa hingga Sabtu, 3 Oktober 2020, sudah 130 dokter, 9 dokter gigi (6 dokter gigi umum, 3 dokter gigi spesialis), dan 92 perawat meninggal dunia akibat Covid-19.

Dokter Ari Kusuma, Wakil Ketua Tim Mitigasi PB IDI, mengatakan kehilangan para tenaga kesehatan merupakan kerugian besar bagi sebuah bangsa terutama dalam mempertahankan dan pengembangan aspek kesehatan.

"Jumlah tenaga kesehatan terutama dokter di Indonesia sebelum pandemi Covid-19 sudah merupakan salah satu yang terendah di Asia dan dunia. Dengan jumlah dokter yang ada, rata-rata satu orang dokter diestimasikan melayani 3.000  orang. Dengan banyaknya korban dari pihak tenaga kesehatan saat ini, maka ke depannya layanan kesehatan pada pasien baik Covid maupun non-Covid akan terganggu karena kurangnya tenaga medis," kata Ari.

Dari 130 dokter yang wafat, terdiri dari 67 dokter umum dengan empat di antaranya merupakan guru besar, 61 dokter spesialis dengan empat  di antaranya adalah guru besar, serta dua orang residen. Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI Wilayah (provinsi) dan 61 IDI Cabang (kota/kabupaten).

Yang memprihatinkan, kata Ari, adalah meski pemerintah dan banyak pihak gencar mengampanyekan pentingnya protokol kesehatan, namun jumlah kematian tenaga kesehatan terutama dokter semakin bertambah pesat.

"Angka kematian yang cepat ini membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya abai terhadap pelaksanaan protokol kesehatan namun juga tidak peduli pada keselamatan tenaga kesehatan," ujarnya.

Tim Mitigasi PB IDI berharap masyarakat tidak menganggap remeh pandemi Covid ini. Semakin masyarakat abai terhadap protokol kesehatan, maka Indonesia akan sulit melewati masa pandemi ini dan bukan hanya kerugian secara ekonomi namun juga korban jiwa baik tenaga kesehatan, keluarga, maupun diri sendiri.

Dokter Eka Ginanjar, Ketua Tim Protokol dari Tim Mitigasi IDI, mengingatkan bahwa penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19 termasuk menjaga diri kita dan orang lain yang kita sayangi dari tertular Covid-19 maka langkah 3M (masker, menjaga jarak, mencuci tangan) harus dilaksanakan.

Langkah 3M tersebut, yaitu selalu memakai masker dengan baik dan benar, yang menjadi penghambat jalur masuk dan keluar dari proses penularan Covid-19 yang menular melalui droplet atau bahkan aerosol pada kondisi ruangan dengan sirkulasi yang tidak baik.

Kemudian menjaga jarak lebih dari 1 meter, menghindari kerumunan apalagi beraktivitas bersama dalam waktu lama dengan sirkulasi udara tertutup, termasuk makan bersama.

Terakhir, mencuci tangan selalu dengan air mengalir dan sabun dengan benar selama 40 sd 60 detik atau bila tidak ada dapat menggunakan Handsanitizer berbasis alkohol.

Menurut Eka, pelaksanaan 3M ini harus dilaksanakan secara masif oleh semua orang  tanpa kecuali. Dengan demikian penyebaran Covid-19 ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga dapat menekan jumlah korban dan kerugian yang lebih besar dari berbagai sektor.

"Disiplinkan diri Anda untuk menggunakan masker dan melaksanakan 3M dalam kehidupan sehari-hari seraya mengingatkan keluarga, teman, ataupun rekan kerja dan orang terdekat lainnya untuk menerapkan hal yang sama," tegas Eka.






Viral Perawat di Palembang Diduga Lakukan Malpraktik terhadap Bayi, Apa Hukumannya?

44 menit lalu

Viral Perawat di Palembang Diduga Lakukan Malpraktik terhadap Bayi, Apa Hukumannya?

Kasus perawat potong jari bayi di RS Muhammadiyah Pelmbang menggegerkan. Perbuatannya diduga malpraktik, apakah itu?


Survei: Dua Pertiga Dokter di Austria Ingin Mengundurkan Diri

23 hari lalu

Survei: Dua Pertiga Dokter di Austria Ingin Mengundurkan Diri

Beban kerja yang terlalu tinggi membuat dua pertiga dokter di Austria ingin mengundurkan diri.


Pertamedika IHC Buka Lowongan Kerja untuk RS di Bali, Ini Posisi yang Dibutuhkan

24 hari lalu

Pertamedika IHC Buka Lowongan Kerja untuk RS di Bali, Ini Posisi yang Dibutuhkan

PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC) membuka lowongan kerja.


Cegah Persinggungan Pelayanan, Kemenkes Tetapkan Pembagian Kompetensi Dokter Spesialis

28 hari lalu

Cegah Persinggungan Pelayanan, Kemenkes Tetapkan Pembagian Kompetensi Dokter Spesialis

Kemenkes menerbitkan surat edaran terkait pembagian kompetensi untuk mengatasi persinggungan pelayanan yang melibatkan profesi dokter spesialis di RS.


2 Dokter di Arab Saudi Ditahan karena Bayar Staf untuk Operasi Pasien

38 hari lalu

2 Dokter di Arab Saudi Ditahan karena Bayar Staf untuk Operasi Pasien

Badan Pengawasan dan Anti-korupsi Arab Saudi (Nazaha) menahan dua orang dokter yang membayar staf tanpa otoritas untuk melakukan tindakan operasi.


Surat Keterangan Sakit, Siapa yang Boleh Memberikan?

40 hari lalu

Surat Keterangan Sakit, Siapa yang Boleh Memberikan?

Ramai soal iklan jasa pembuatan surat keterangan sakit secara online. Siapa saja yang sebenarnya boleh mengeluarkan surat tersebut?


Apa yang Terjadi jika Seseorang Defisiensi Vitamin D?

43 hari lalu

Apa yang Terjadi jika Seseorang Defisiensi Vitamin D?

Berbagai penyakit pada tulang disebabkan defisiensi vitamin D. Apakah yang dimaksud defisiensi vitamin D dan apa saja akibatnya bagi tubuh?


Tim Dokter RSHS Bandung Pisahkan Bayi Kembar Siam Usia 11 Bulan

46 hari lalu

Tim Dokter RSHS Bandung Pisahkan Bayi Kembar Siam Usia 11 Bulan

Bayi kembar siam seberat 14,6 kilogram itu memiliki organ liver atau hati yang menyatu.


Kata Dokter Soal Rencana Google Bikin Fitur Pembaca Resep Obat

46 hari lalu

Kata Dokter Soal Rencana Google Bikin Fitur Pembaca Resep Obat

Tulisan tangan dokter di resep obat yang sulit dibaca awam ternyata sudah sesuai kaidah. Bakal aplikasi malah bisa bikin bahaya. Kok bisa?


Ahmad Puji Fitur Konsultasi Dokter di Mobile JKN

48 hari lalu

Ahmad Puji Fitur Konsultasi Dokter di Mobile JKN

Peserta JKN bisa dengan mudah berkonsultasi dengan dokter melalui chat di Mobile JKN.