Tak Sanggup Tarif Baru Swab Test PCR, Unsyiah Pilih Tutup Layanan

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti menggunakan alat teknologi terbaru Polymerase Chain Reaction (PCR) berbasis digital (ddPCR) di Laboratorium Genomik dan Perbaikan Mutu Tanaman, LIPI , Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, 30 Oktober 2019. Kredit: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.

    Peneliti menggunakan alat teknologi terbaru Polymerase Chain Reaction (PCR) berbasis digital (ddPCR) di Laboratorium Genomik dan Perbaikan Mutu Tanaman, LIPI , Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, 30 Oktober 2019. Kredit: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Laboratorium Penyakit Infeksi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menutup layanan pemeriksaan sampel usap (swab) Covid-19 metode RT-PCR jalur mandiri. Unsyiah merespons penetapan batas tarif tertinggi untuk layanan itu oleh pemerintah yang tak boleh lebih mahal dari Rp 900 ribu.

    Selama ini Unsyiah memasang tarif Rp 1,5 juta per sampel swab test untuk sekali pemeriksaan PCR tersebut. Sedang harga maksimal Rp 900 ribu dianggap tidak dapat menutupi kebutuhan untuk keberlangsungan laboratoriumnya selama pemeriksaan sampel usap terkait Covid-19.

    "Jadi karena sudah dibatasi harga segitu (Rp 900 ribu) maka kami tidak lagi layani periksa mandiri per hari ini," kata Manajer Operasional Laboratorium Penyakit Infeksi Unsyiah, Ichsan, di Banda Aceh, Selasa 6 Oktober 2020.

    Ichsan berdalih, tarif Rp 1,5 juta untuk mendukung pemakaian bahan habis pakai yang terbaik, kit (reagen) yang juga terbaik. Harga Baru, Rp 900 ribu, dia menambahkan, "Rugi, enggak menutupi kebutuhan."

    Oleh karena itu, Ichsan menjelaskan, pihaknya beralih hanya fokus untuk menyelesaikan pemeriksaan sampel swab test pasien suspek dari rumah sakit, dan juga sampel-sampel dari masyarakat di 13 kabupaten/kota yang bekerja sama dengan Unsyiah alias periksa gratis.

    Layanan gratis bisa dilakukan karena cairan kit reagen yang digunakan bantuan BNPB. Unsyiah hanya menanggung bahan habis pakai, termasuk listrik, air, operasional, tenaga pemeriksa. "Jadi itulah sumbangsih Unsyiah untuk penanggulangan Covid-19, itu kan dana Unsyiah," kata Ichsan.

    Baca juga:
    WHO Prediksi 770 Juta Penduduk Dunia Positif Covid-19

    Ada pula kelompok gratis kedua, yakni buah kerja sama Unsyiah dengan pemerintah kota. Untuk kelompok ini, pemerintah kota yang menanggung bahan habis pakai. Ini berlaku, misalnya, untuk program Pemda Banda Aceh melakukan swab test 1.300, 2.000, dan rencana 5.000 warganya secara bertahap. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.