Klaster Baru Covid-19, Direktur Rumah Sakit di Cina Dipecat

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengantre untuk melakukan tes asam nukleat di sebuah taman di Beijing, Cina, 17 Juni 2020. Beijing pun memberlakukan lockdown ketat setelah gelombang kedua Covid-19 muncul di ibu kota Cina itu mencegah penyebarannya ke provinsi lain, termasuk dengan melarang perjalanan keluar dari ibu kota. REUTERS/Thomas Peter

    Warga mengantre untuk melakukan tes asam nukleat di sebuah taman di Beijing, Cina, 17 Juni 2020. Beijing pun memberlakukan lockdown ketat setelah gelombang kedua Covid-19 muncul di ibu kota Cina itu mencegah penyebarannya ke provinsi lain, termasuk dengan melarang perjalanan keluar dari ibu kota. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Beijing - Pemerintah Kota Qingdao di Cina menyatakan pada Kamis, 15 Oktober 2020, menangguhkan jabatan kepala komisi kesehatan dan memecat direktur rumah sakit setempat. Gara-garanya, kemunculan klaster baru wabah Covid-19 yang berasal dari penularan lokal.

    Kota itu telah mengkonfirmasi 13 kasus positif infeksi virus corona Covid-19, yang kebanyakan terkait dengan Rumah Sakit Dada Qingdao. Rumah sakit itu merawat dan mengisolasi orang-orang yang baru kembali dari luar negeri.

    Klaster baru di Qindao menodai capaian Cina yang melaporkan nihil kasus penularan lokal selama sekitar dua bulan ini. Satu kasus penularan lokal itu di antaranya terjadi pada seorang pekerja pelabuhan. Dia terkonfirmasi positif Covid-19 namun mengalami gejala setelah sekitar 20 hari.

    Pemerintah kota itu sedang menjalankan uji deteksi Covid-19 kepada seluruh sembilan juta warganya. Targetnya selesai dalam lima hari dan per Kamis ini telah lebih dari tujuh juta hasil tes didapat tanpa ada laporan kasus positif.

    Secara keseluruhan, Cina telah mengambil langkah keras dalam mencegah penyebaran penyakit infeksi virus corona Covid-19. Negara pertama yang melaporkan epidemi penyakit infeksi virus corona jenis baru ini pada akhir tahun lalu tersebut melakukan pengujian massal setiap kali muncul klaster baru.

    Tujuannya, mengendalikan dengan cepat penularan yang mungkin terjadi. Adapun uji dilakukan dengan cara tes asam nukleat yang mampu mendeteksi sisa virus corona Covid-19 pada tubuh seseorang.

    Baca juga:
    Pria di Amerika Jadi Orang Kelima yang Dua Kali Positif Terinfeksi Covid-19

    Hasilnya, Cina hingga kini masih mempertahankan jumlah penularan di sekitaran 85 ribu kasus dan angka kematian 4.634 orang. Jumlah itu bahkan sudah dilalui Indonesia yang per hari ini melaporkan 349.160 kasus infeksi dan 12.268 orang meninggal. Sedang secara global, jumlahnya hampir 38,5 juta kasus positif dan hampir 1,1 juta orang meninggal. 

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaga Badan Saat Pandemi Covid-19

    Banyak rutinitas keseharian kita yang dibatasi selama pandemi Covid-19. Salah satunya menyangkut olahraga