Unair Lapor ke BIN: Obat Unair 3 Siap Uji Klinis

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih (kiri) didampingi Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara (BIN) Bambang Sunarwibowo (kanan) dan Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Maria Lucia Inge Lusida menjelaskan temuan urutan DNA lengkap virus corona Covid-19 di sela-sela pemberian bantuan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat 8 Mei 2020. BIN memberikan bantuan sejumlah peralatan laboratorium kepada Unair untuk penelitian Covid-19 dan upaya pembuatan vaksin yang nantinya dapat diproduksi secara massal. ANTARA FOTO/Moch Asim/foc

    Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih (kiri) didampingi Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara (BIN) Bambang Sunarwibowo (kanan) dan Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Maria Lucia Inge Lusida menjelaskan temuan urutan DNA lengkap virus corona Covid-19 di sela-sela pemberian bantuan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat 8 Mei 2020. BIN memberikan bantuan sejumlah peralatan laboratorium kepada Unair untuk penelitian Covid-19 dan upaya pembuatan vaksin yang nantinya dapat diproduksi secara massal. ANTARA FOTO/Moch Asim/foc

    TEMPO.CO, Surabaya - Universitas Airlangga Surabaya (Unair) menyatakan telah merampungkan pengulangan riset kombinasi obat untuk penyakit Covid-19. Hanya satu dari awalnya lima kombinasi obat, kemudian dikurangi lagi menjadi tiga, yang akhirnya diajukan untuk diuji coba pada pasien atau uji klinis.

    "Untuk obat baru yaitu Unair 3 mempunyai efektivitas lebih tinggi dari senyawa lain yang kami teliti. Saat ini sedang persiapan pengajuan uji klinis ke manusia," ucap Rektor Unair Mohammad Nasih di Surabaya, Kamis 15 Oktober 2020.

    Nasih mengungkapkan telah menyerahkan laporan terbaru dari riset obat itu kepada Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI AD. Untuk selanjutnya, dia mengatakan, Unair masih menunggu arahan dari BIN untuk pengembangannya.

    Nasih mengakui proses riset obat tersebut masih sangat panjang sementara saat ini harapan terhadap kehadiran vaksin Covid-19 sudah dekat. Namun dia bersyukur karena, menurutnya, obat kombinasi yang dimaksud sudah masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Paru Indonesia.

    Seperti diketahui, riset obat Covid-19 oleh tim peneliti di Unair pernah memicu kontroversi di tanah air. Sebagian kalangan menganggap tim tersebut telah mengambil jalan pintas saat mengumumkan hasil uji dan rencana segera produksi massal pada 15 Agustus lalu.

    Kontroversi berujung permintaan izin produksi ditolak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan tim peneliti harus mengulang dan memperbaiki pengambilan dan uji sampel. Saat itu, dari lima kombinasi obat sudah dipilih tiga yang diklaim telah teruji memberi hasil efikasi menyembuhkan pasien Covid-19 non pengguna ventilator hingga 98 persen.

    Ketiga kombinasi itu adalah Lopinavir/Ritonavir-Azithromycin; Lopinavir/Ritonavir-Doxycycline; serta Hydrochloroquine-Azithromycin. Seluruhnya adalah obat-obatan yang sudah beredar di pasaran dan sengaja dipilih untuk percepatan riset keamanan obat.

    Baca juga:
    Ada BIN di Riset Obat dan Alat Tes Covid-19, Ini Kata Menristek

    Tidak ada penjelasan dari tiga kombinasi itu yang akhirnya yang dimuat dalam laporan terkini dan disebut Obat Unair 3. Juru bicara Unair, Suko Widodo, saat dimintai penjelasan tambahan perihal kombinasi obat terpilih itu, Jumat 16 Oktober 2020, hanya mengatakan, "Sudah diserahkan ke BPOM. Kita tunggu saja."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips untuk Membersihkan Rumah Saat COVID-19

    Kebersihan rumah menjadi salah satu hal yang penting saat pandemi COVID-19.