Epidemiolog: Pembelian Vaksin Covid-19 Ibarat Ijon Buah

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia tengah memburu vaksin Covid-19 dari berbagai produsen. Negosiasi pembelian sudah dilakukan walau uji klinis fase 3 vaksinnya kini belum ada yang rampung.

    “Kalau pemerintah sudah memesan sebenarnya vaksin-vaksin itu masih tentatif bisa digunakan atau tidaknya,” kata epidemiolog Universitas Padjadjaran Panji Fortuna Hadisoemarto saat dihubungi Ahad, 18 Oktober 2020.

    Menurutnya vaksin Covid-19 baru bisa digunakan kalau keamanan dan efektivitasnya terbukti meyakinkan. “Yang paling penting aman, kalau efektivitas bisa tawar-tawar sedikit untuk keperluan urgent seperti ini,” ujarnya .

    Syarat seperti itu harus menunggu data dari hasil fase 3 atau tahap akhir uji klinis calon vaksin. “Sekarang kan belum selesai, mungkin November sudah ada yang melaporkan hasil awalnya,” kata Panji.

    Sebelumnya diberitakan, pemerintah Indonesia telah melakukan finalisasi pembelian vaksin Covid-19 dari Cansino, G42/Sinopharm, dan Sinovac. Ketiganya berencana menyiapkan vaksinnya pada November mendatang.

    Pembelian vaksin sekarang, menurut Panji, berisiko merugikan jika ternyata hasil uji klinisnya tidak memuaskan. “Saya nggak tahu perjanjiannya seperti apa, ini kan kayak ijon buah-buahan, kalau gagal panen ya rugi.”

    Menurutnya pengadaan vaksin yang belum selesai uji klinisnya itu tidak perlu tergesa-gesa. “Kalau hasil uji klinisnya tidak bagus, kita nggak bisa pakai, jangan pakai,” ujar Panji.

    Menurutnya uji klinis fase 1 dan 2 diarahkan pada keamanan dan imunogenesitas, yaitu apakah vaksinnya menimbulkan reaksi kekebalan. Pada kedua fase itu belum diketahui apakah antibodi yang dihasilkan dari calon vaksin bisa melindungi orang dari virus SARS-CoV-2. Efektivitas vaksinnya melawan penyakit baru bisa diketahui dari fase 3. “Pertanyaan paling pentingnya apakah vaksinnya berguna nggak atau efikasinya untuk mengurangi sakit atau kematian akibat Covid-19.”

    Selain hasil uji klinis vaksin yang belum jelas, target dan strategi imunisasi juga masih bisa berubah. Bisa jadi menurutnya vaksin yang lolos nantinya tidak bisa dipakai kelompok masyarakat tertentu atau lebih bagus jika digunakan untuk kelompok lainnya. “Yang saya sayangkan adalah bentuk komunikasi yang seolah-olah ini semuanya sudah pasti,” kata Panji.

    Dia menyarankan komunikasi pemerintah ke publik agar lebih terbuka bahwa begitu banyak ketidakpastian soal vaksin ini. Sekarang ada 9 kandidat vaksin yang tengah uji klinis tahap akhir atau fase 3 dan belum tentu ada yang berhasil. Berdasarkan pengalaman yang masuk fase uji klinis hanya 1 dari 5 sukses dari mulai fase satu. “Kalau sekarang ada dua vaksin sudah bagus kalau hasilnya memuaskan.”

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Senin pekan lalu mengatakan pemerintah akan mengejar imunisasi vaksin bagi 160 juta penduduk secara bertahap mulai akhir 2020 hingga 2022 dengan melibatkan 11 ribu Puskesmas.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Mengajar Saat Covid-19

    Administrasi sekolah harus siap-siap protokol kesehatan Covid-19 untuk melindungi staf pengajar mereka. Berikut tipsnya.